Pasar gaming online global saat ini mengalami pertumbuhan yang pesat. Situs web analisis e-sport dan gaming NewZoo mencatat saat ini terdapat lebih dari 2,7 miliar gamer di seluruh dunia. Di tahun 2020 total pengeluaran gamer diperkirakan mencapai 159,3 milliar USD, dengan wilayah Asia Pasifik berkontribusi sebesar 55 persen atau 87 miliar USD dari pendapatan tersebut.

Sementara itu, Indeks Web Global mencatat lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia melakukan streaming game melalui internet setiap bulan dan satu miliar orang lainnya menonton orang bermain game secara livestream setiap bulannya. Pelaku industri menganggap penggabungan teknologi blockchain dengan game memiliki potensi besar untuk industri ini. Platform blockchain mendukung pertukaran aset terdesentralisasi, kelangkaan objek virtual dan barang koleksi yang dapat diverifikasi, jaringan pembayaran yang cepat dan aman, serta memungkinkan pengembang untuk memonetisasi ciptaan mereka.

Hal ini dimanfaatkan Digital Entertainment Asset (DEA), spesialis gaming asal Jepang. DEA mulai beroperasi di Singapura untuk meluncurkan gaming online regional yang akan berjalan pada platform blockchain DEA. Didirikan oleh technopreneur Naohito Yoshida, DEA akan menggunakan platform blockchain PlayMining miliknya untuk menawarkan para gamer regional akses ke games, koleksi digital art dan interaksi dengan karakter manga Jepang.

“DEA menawarkan hal yang berbeda di mana pengguna dapat menghasilkan cryptocurrency (mata uang crypto) yang kemudian dapat ditukar dengan uang tunai. Saya sangat senang dapat menggabungkan gaming dan animasi dengan teknologi blockchain yang akan menjadi tren industri baru di masa depan,” kata Yoshida dalam keterangan tertulis yang didapatkan GAMEFINITY.ID, Senin (30/11/2020).

Platform PlayMining DEA menggunakan DEAPcoin, cryptocurrency yang diproduksi pada 29 Agustus 2019 dan sekarang diperdagangkan di bursa cryptocurrency internasional seperti OKEx, Bithumb Global (Korea Selatan), BITTREX GLOBAL (Uni Eropa), INDODAX (Indonesia), DigiFinex (Hong Kong) dan Bitrue (Singapura). Yoshida yang dikenal sebagai Goro-san di kalangan e-gaming juga merupakan pendiri tiga perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Tokyo: Celebrix Holding, Zaparas dan EOLE, di mana dia adalah pemimpinnya.

Melihat besarnya potensi e-gaming di Asia Tenggara, DEA resmi meluncurkan JobTribes, permainan kartu dan puzzle berbasis blockchain, di pasar Indonesia pada November 2020. Peluncuran tahap awal JobTribes mengumpulkan lebih dari 100.000 pengikut di seluruh wilayah Asia Tenggara, dan setengahnya berasal dari Indonesia. Yoshida menilai Sebagian besar antusiasme ini didorong oleh potensi untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

“Kami menyediakan konten hiburan secara gratis dan yang Anda dapatkan dalam permainan ini dapat digunakan dalam kehidupan nyata. Ini memberikan peluang penghasilan bagi gamer,” ujar Yoshida.

Pengguna bermain game secara gratis untuk mendapatkan DEAPcoin yang dapat digunakan untuk memperkuat game atau membeli Digital Art. Digital Art tersebut dapat diperdagangkan di platform berbasis blockchain DEA yaitu DEA Digital Art Auction, yang kemudian ditukar menjadi uang tunai. Yoshida memperkirakan game-nya dapat menarik dua juta pengguna pada awal tahun 2021.

Perusahaan teknologi ternama dunia seperti Google, Tencent, Sony, dan Nintendo mulai berinvestasi dengan nilai besar pada game. Selain mengembangkan pasar Asia Tenggara dari Singapura, DEA juga berharap untuk berekspansi ke India karena memiliki potensi pasar yang sangat besar. DEA juga mempertimbangkan untuk mendaftarkan cryptocurrency miliknya pada bursa di India, Filipina, Taiwan, dan Malaysia.

“Saya juga mencari investor di Asia Tenggara untuk bermitra dengan DEA dengan pesatnya pertumbuhan operasi DEA wilayah ini.”

Transformasi digital merupakan bagian dari proses teknologi yang berhubungan dengan penerapan teknologi digital dalam semua aspek kehidupan yang ada pada masyarakat. Dalam prakteknya di sektor bisnis, transformasi digital dipahami sebagai cara kerja yang berkelanjutan melibatkan proses dan strategi dengan menggunakan teknologi digital, yang secara drastis mengubah cara bisnis beroperasi dan memberikan pelayanan kepada pelanggan.

Sebelum pandemi COVID-19, sebuah riset yang dilakukan perusahaan penyedia layanan teknologi global, NTT Ltd. menunjukkan bahwa sebagian besar organisasi telah menyadari kebutuhan untuk bertransformasi secara digital, tetapi tetap ada kesenjangan yang signifikan antara mereka yang maju dengan cepat dan yang terlambat memulai.

Menurut laporan Digital Means Business Benchmarking NTT Ltd. tahun 2019, kesenjangan itu akan terus melebar, kecuali pemimpin-pemimpin dalam organisasi mengambil keputusan dan tindakan yang tepat untuk cepat mengejar ketertinggalannya. Setelah terjadinya pandemi, proses transformasi digital mengalami percepatan.

Saat COVID-19 mayoritas pegawai terpaksa bekerja dari rumah, namun pelayanan kepada masyarakat harus tetap optimal dan berdaya guna, saat itulah keputusan untuk melakukan transformasi digital dilakukan agar pekerjaan mereka harus dapat diselesaikan dengan baik, efektif dan efisien.

Lantas, apa saja tren transformasi bisnis digital paling menonjol yang diperkirakan akan muncul di tahun 2021? Berikut pembahasannya menurut NTT Ltd.

  1. Transformasi digital yang proaktif dan berani adalah keharusan, bukan pilihan

Di tahun 2021, NTT memprediksi bahwa adanya keterkaitan antara nilai bisnis dan investasi akan semakin kuat. Organisasi mengadopsi pola pikir oportunistik dan pendekatan yang gesit, sehingga menyadari bahwa ini bukan hanya perubahan ekstrim, dan restrukturisasi yang dilakukan di seluruh bisnis harus melalui peristiwa tunggal.

Transformasi digital saat ini sudah dipandang sebagai suatu perilaku, gaya dan cara bekerja yang berakar pada budaya di mana orang didorong untuk terus berpikir kreatif dan bertindak secara adaptif. Hubungan perusahaan dan pelanggan bukan sebatas transaksi saja, namun merupakan hubungan jangka panjang dan berkesinambungan, di mana data menjadi pusat penting untuk menanggapi kebutuhan perusahaan dan pelanggan.

  1. Saat ini sangat penting untuk perusahaan mampu memanfaatkan jaringan cloud publik dan privat secara gesit dan responsif terhadap perubahan permintaan pasar

Beban kerja terus bergeser ke kombinasi platform cloud, dengan penggunaan cloud publik diharapkan tumbuh dari 24% menjadi 30% dan penggunaan cloud pribadi di pusat data penyedia layanan akan tumbuh dari 19% menjadi 23% tahun depan.

  1. Otomatisasi akan semakin menjadi inti dari transformasi bisnis digital yang berhasil

Salah satu di antara banyak manfaat dari otomatisasi adalah penghematan biaya. Hal ini disebabkan karena organisasi dapat mengerahkan waktu dan keahlian SDM ke aktivitas bernilai yang lebih tinggi di mana akan mendukung bisnis inti.

Keuntungan lainnya adalah peningkatan efisiensi pasar dan waktu yang lebih cepat. Semakin cepat organisasi membuat perubahan pada infrastruktur TI-nya, semakin sedikit waktu yang diperlukan untuk meluncurkan produk dan layanan baru.

  1. Infrastruktur akan menjadi penghasil data yang utama

Di tahun-tahun yang lalu, data adalah sesuatu yang digunakan untuk tujuan intelijen dan infrastruktur bertugas membawa data tersebut kepada masing-masing orang. Namun sekarang infrastruktur menjadi penghasil data yang utama.

Bayangkan jika jaringan data dan analitik di sebuah kantor dapat mendeteksi dimana lokasi orang, pergerakannya dan kapan mereka berhenti. Sama seperti di lingkungan perdagangan, organisasi dapat mendeteksi jejak orang yang berbelanja untuk memastikan produk apa yang biasanya mereka cari dan beli serta apakah mereka mengalami pengalaman yang positif atau negatif.

  1. Pengakuan pada peran keamanan siber dalam pemberdayaan bisnis digital akan meningkat

Untuk mengungkap teknik serangan penjahat siber, organisasi harus dapat melihat seluruh aplikasi, titik akhir (end point), jaringan dan para pengguna. Solusi keamanan siber yang terintegrasi sangat diperlukan agar penjahat siber tidak dapat menemukan celah untuk melancarkan serangan.

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan higga Oktober 2020, pemerintah meraup penerimaan sebesar Rp297 miliar dari pajak digital yang disetor oleh 16 perusahaan asing selaku pemungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Hal ini diutarakan Direktur Jenderal Pajak Kemenkeu, Suryo Utomo dalam pemaparan APBN Kita edisi November 2020 secara virtual di Jakarta.

Dalam dua bulan tersisa di 2020, Kemenkeu berharap setoran pajak digital yang diterima Indonesia bisa semakin meningkat. Apalagi jumlah perusahaan asing yang ditunjuk sebagai pemungut PPN atas transaksi barang dan jasa tidak berwujud atau Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE) terus bertambah.

Suryo menjelaskan jumlah perusahaan asing baru mencapai enam perusahaan dengan nilai setoran PPN mencapai Rp97 miliar per September 2020. Kemudian per Oktober 2020 bertambah menjadi 16 perusahaan dengan nilai mencapai Rp297 miliar. Per November 2020, jumlah perusahaan akan bertambah delapan menjadi 24 perusahaan PMSE asing dan Desember bertambah lagi sebanyak 12 menjadi 36 pemungut PPN baru.

“Penunjukan pemungut terus dilakukan. Sampai hari ini sudah ada 46 pemungut PMSE asing yang ditunjuk untuk pungut PPN. Kalau harapan besarnya tergantung volume transaksi dari masing-masing subjek pajak luar negeri yang ditunjuk,” imbuhnya.

Sementara itu Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara mengatakan dengan pemberlakuan kebijakan pemungutan pajak digital itu diharapkan ada keadilan dalam pembayaran PPN baik transaksi secara konvensional dan daring.

“Jadi kalau yang konvensional, kita beli di mall bayar PPN, untuk online maka juga dengan PMSE ini akan ada level of playing field sama treatment-nya. Jadi aspek kepatuhan pajak dan level of playing field,” imbuhnya.

Laporan e-Conomy SEA yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memprediksi Indonesia tetap menjadi pasar ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai mencapai 124 miliar USD atau sekitar Rp1.762 triliun pada 2025. Diperkirakan pertumbuhan dan percepatan akan terus berlanjut di sektor ini dalam beberapa tahun ke depan.

“Indonesia tetaplah pasar ekonomi internet terbesar di Asia Tenggara dan menjadi medan persaingan utama bagi platform-platform teknologi. Oleh sebab itu, mereka sangat siap untuk menjadi pendorong utama inovasi digital di kawasan ini,” ujar Partner and Leader dari Southeast Asia Private Equity Practice di Bain & Company, Alessandro Cannarsi, dikutip dari ANTARA.

Laporan regional 2020 ini mencakup lima sektor, yaitu e-commerce, media online, transportasi online, perjalanan, dan layanan keuangan digital, serta menyentuh dua sektor baru, yakni teknologi pendidikan dan kesehatan (EdTech dan HealthTech). Laporan memperkirakan, dalam lima tahun ke depan, adanya pertumbuhan 21 persen untuk sektor e-commerce Indonesia serta 28 persen untuk transportasi online dan pengantaran makanan.

Sementara itu, laporan tahunan berjudul “At full velocity: Resilient and Racing Ahead” tersebut juga memperkirakan ekonomi internet Tanah Air secara keseluruhan bernilai 44 miliar USD atau sekitar Rp625 triliun pada 2020. Laporan tahun ini menunjukkan ekonomi digital Indonesia terus bertumbuh dua digit, dipimpin oleh e-commerce dan media online.

E-commerce naik 54 persen menjadi 32 miliar USD pada 2020, dari 21 miliar USD pada 2019. Pertumbuhan momentum e-commerce di Indonesia juga tercermin dari peningkatan lima kali lipat jumlah supplier lokal yang mencoba berjualan online karena pandemi. Media online juga menunjukkan pertumbuhan positif sejauh ini pada 2020, dengan nilai 4,4 miliar USD atau naik 24 persen dari 3,5 miliar USD pada 2019. Sektor ini diperkirakan akan terus bertumbuh sebesar 18 persen menjadi 10 miliar USD pada 2025.

Namun, dengan adanya pandemi, sektor tertentu seperti perjalanan dan transportasi terhambat, seperti yang ditunjukkan laporan ini. Sektor perjalanan online turun 68 persen menjadi 3 miliar USD pada 2020, dari 10 miliar USD pada 2019, walau diperkirakan akan bertumbuh dengan CAGR 36 persen dan mencapai 15 miliar USD pada 2025. Pengantaran makanan dan transportasi juga turun 18 persen menjadi 5 miliar USD, dari 6 miliar USD pada 2019.

Meski begitu, Chief Investment Strategist, Temasek, Rohit Sipahimalani masih melihat potensi yang besar dari ekonomi internet Indonesia, dengan pertumbuhan yang didorong oleh besarnya jumlah pengguna internet yang sangat aktif dan bahkan semakin aktif menggunakan internet karena pandemi. Selain itu, banyaknya pengguna baru teknologi berbasis internet serta e-commerce memunculkan prospek untuk usaha-usaha baru di Indonesia, sekaligus mendorong pertumbuhan untuk usaha yang sudah ada.

Persentase pengguna game online selama pandemi virus COVID-19 mengalami peningkatan yang signifikan. Mengacu data dari Verizon, pengguna video game meningkat 75 persen selama jam sibuk. Verizon mengatakan peningkatan terjadi karena ratusan juta orang diimbau tetap berada di dalam rumah guna mencegah penyebaran COVID-19. Akibatnya, banyak orang memilih bermain game untuk mengisi waktu luangnya selama di rumah.

Melansir TechCrunch, plat distribusi game Steam mencatat rekor pengguna game dengan lebih dari 20 juta pengguna pada 16 Maret 2020. Jumlah tersebut tanpa dukungan rilis game baru yang pada umumnya mendorong kenaikan pengguna. Sementara platform obrolan gaming Discord mengaku servernya sempat turun meski perusahaan meningkatkan kapasitas server lebih dari 20 persen untuk menangani penggunaan yang meningkat pada pekan lalu.

Manajer hedge fund Skycatcher, Siamc Kamalie mengatakan waktu rata-rata yang dihabiskan setiap pengguna pada game mobile tumbuh 41 persen selama Tahun Baru Cina tahun 2020 jika dibandingkan dengan 2019. Angka itu naik 18 persen dibandingkan satu minggu sebelum Tahun Baru China pada tahun 2020.

Melansir Gaming Street, Kepala Staf Teknologi Verizon Kyle Malady mengatakan peningkatan lalu lintas video dan game online tidak mengejutkan karena banyak hiburan di Amerika Serikat dibatalkan akibat kebijakan berada di rumah. Laporan Verizon menyebut video game sejauh ini mendapat manfaat terbesar. Lalu lintas web hanya mengalami peningkatan 20 persen dalam jangka waktu yang sama. Sementara itu, streaming video naik 12 persen dan lalu lintas media sosial tetap datar.

Hal ini menunjukkan bahwa orang beralih ke permainan video lebih dari bentuk hiburan rumah lainnya. Peningkatan lalu lintas game pertanda baik bagi investor yang ingin berinvestasi di ruang game. Karena banyak sektor terus mencapai rekor terendah, video game adalah salah satu dari sedikit industri di mana memiliki kabar baik.

Analis Wedbush Securities Michael Patcher mengatakan orang-orang yang berada di rumah selama pandemi akan bermain game untuk mencari hiburan. Hal ini berimbas pula pada harga saham untuk penerbit game yang bertahan relatif baik di pasar, sehingga tampaknya investor percaya bahwa orang-orang bermain lebih banyak.

Berdasarkan survei IT Security Economics 2020 yang dilakukan oleh Kaspersky, lebih dari sepertiga atau sebanyak 37 persen usaha kecil menengah (UKM) di Asia Tenggara mengaku telah menghadapi serangan yang ditargetkan. Angka tersebut merupakan empat tingkat lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata global sebesar 33 persen. Dalam penelitian ini, UKM didefinisikan sebagai perusahaan yang memiliki karyawan sebanyak 50 hingga 999 orang.

“Meskipun banyak pemilik usaha yang masih menganggap bisnis sederhana mereka jauh dari radar penjahat dunia maya, wawasan dari survei kami mengungkapkan gambaran sebaliknya. Kebanyakan aktor ancaman pada dasarnya adalah oportunis. Perusahaan besar lebih cenderung memiliki langkah-langkah keamanan mutakhir sehingga UKM akhirnya menjadi sasaran empuk,” ujar General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky, Yeo Siang Tiong, dikutip dari ANTARA, Senin (23/11/2020).

Serangan bertarget adalah beberapa risiko paling berbahaya bagi sistem bisnis. Ini adalah tipe serangan siber yang ditujukan untuk membahayakan perusahaan atau jaringan tertentu. Biasanya, serangan yang ditargetkan memiliki beberapa tahapan. Jenis ancaman canggih tersebut cenderung sangat sulit dideteksi karena sifatnya yang ditargetkan.

“Ketika berhasil, serangan ini bisa menyebabkan kerugian yang sangat besar. Rata-rata, serangan yang berhasil terhadap UKM dapat menghabiskan biaya hingga 130k USD — jika dihadapkan dengan situasi saat ini, itu merupakan jumlah yang sangat besar,” kata Yeo.

Studi yang sama dilakukan pada bulan Juni lalu dengan para 5.266 pembuat keputusan bisnis TI dari 31 negara mengungkapkan celah yang memerlukan perbaikan mendesak, mengingat lebih dari setengah UKM di Asia Tenggara (66 persen) mengakui kurangnya visibilitas infrastruktur dan (64 persen) ketidakmampuan untuk mendeteksi ancaman serius di antara banyaknya peringatan yang datang. Selain itu, hampir tujuh dari 10 (66 persen) responden mengungkapkan kurangnya staf teknis yang terampil untuk mendeteksi dan menanggapi insiden yang kompleks.

Hampir dua pertiga (64 persen) juga mengakui ketidakmampuan mereka untuk menanggapi dan membersihkan dengan benar setelah serangan canggih terjadi dan sekitar 58 persen menyatakan bahwa mereka belum memiliki wawasan dan intelijen memadai tentang ancaman yang secara khusus dihadapi oleh bisnis mereka.

“Jelas bahwa ada dua area yang perlu segera dibenahi oleh sektor ini, yaitu visibilitas terhadap ancaman kompleks untuk mengidentifikasi serangan hingga yang paling canggih, dan keahlian untuk melakukan investigasi serta respons insiden cerdas. Untuk membantu UKM di Asia Tenggara, kami telah membuat deteksi dan respons titik akhir otomatis yang mudah digunakan dan dapat memberikan perlindungan tingkat perusahaan untuk bisnis skala kecil dan menengah tanpa menguras biaya kantong mereka,” dia menambahkan.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo menilai Indonesia membutuhkan lebih banyak sumber daya manusia (SDM) digital guna menunjang percepatan ekonomi digital. Jokowi menargetkan Indonesia akan memiliki 9 juta talenta digital sampai tahun 2035.

“Kita perlu lebih banyak lagi software engineer, product designer, dan content creator sebanyak-banyaknya,” jelas Jokowi dalam acara #Google4ID, Kamis (19/11/2020).

Presiden mengatakan, pengembangan SDM di bidang IT tidak bisa ditunda lagi. Pemerintah mengajak semua pihak terlibat. Menurut Jokowi, pengembangan SDM di bidang IT harus dilakukan bersama-sama, baik pemerintah, perguruan tinggi, maupun swasta.

Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yang juga hadir dalam acara tersebut mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi ekonomi digital sebesar US$124 miliar atau sekitar Rp1.750 triliun (kurs rupiah saat berita ini ditulis) pada tahun 2025. Airlangga turut memberikan apresiasinya kepada Google yang disebutnya mendukung pemerintah selama ini, terutama dengan program digital. Khususnya dalam pelatihan digital dan pembiayaan berbunga rendah senilai 10 juta dolar AS kepada UMKM.

Di Indonesia, Google memiliki beberapa program untuk mengembangkan kemampuan digital. Sebagai contoh yaitu JuaraGCP, sebuah program untuk belajar mengembangkan aplikasi, analisis data, dan machine learning di Google Cloud.

Google juga telah melatih 1.000 peserta melalui program Digital Talent Scholarship, bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika. Selain itu, ada pula program Bangkit, di mana Google bekerja sama dengan startup besar di Indonesia, seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka, serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengembangkan skill teknis di bidang pemrograman.

Government Affairs and Public Policy Manager Google Indonesia, Danny Ardianto mengungkapkan alasan Google memilih Indonesia sebagai salah satu negara yang mendapatkan bantuan 11 juta USD untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional di Indonesia. Bantuan ini mencakup bantuan untuk pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) serta pencari kerja di Tanah Air.

Danny, dalam jumpa pers virtual Google For Indonesia, Rabu (18/11/2020), mengatakan bahwa sektor UMKM dan ekonomi digital Indonesia dinilai potensial dan perlu didukung.

“Indonesia terpilih karena Google melihat Indonesia adalah negara yang ekonomi digitalnya sangat potensial. Bersamaan dengan pandemi global ini, tiap negara memiliki situasi yang serupa tapi tak sama. Namun, di Indonesia, UMKM sangat perlu didukung agar bisa tumbuh lagi pasca-pandemi. Sehingga Indonesia adalah negara yang sangat perlu untuk didukung,” kata Danny seperti dikutip dari ANTARA.

Lebih lanjut, bantuan ini merupakan salah satu inisiatif yang sebelumnya diumumkan oleh CEO Google Sundar Pichai, bahwa perusahaannya akan menyumbangkan 200 juta dolar AS, untuk dana investasi bagi lembaga nirlaba dan keuangan guna menyediakan pinjaman untuk usaha kecil. Indonesia sendiri merupakan satu dari 10 negara yang dipilih Google, dengan komitmen senilai 11 juta dolar AS. Pinjaman modal sebesar 10 juta dolar AS disalurkan untuk menyediakan pinjaman bagi UMKM di seluruh daerah.

Sementara, Google.org, juga akan menghibahkan 1 juta USD kepada Yayasan Plan International Indonesia untuk mengatasi pengangguran anak muda di Indonesia.

“Google menyediakan 10 juta USD dalam bentuk pinjaman modal untuk membantu pemilik UMKM agar lebih siap dalam menghadapi masa pandemi, dan akan diinvestasikan Google melalui kemitraan dengan Kiva, untuk kemudian disalurkan seluas-luasnya. Kami antusias, mengingat sekarang banyak UMKM yang terdampak di Indonesia, sehingga kita eager untuk membantu dari pelatihan serta permodalan,” pungkas Danny.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendorong digitalisasi ekonomi secara besar-besaran di kawasan ASEAN. Dirinya mendorong negara-negara ASEAN sebagai pemain utama bukan hanya pasar. Ekonomi digital diharapkan mampu membantu usaha mikro kecil menengah (UMKM) kawasan ASEAN untuk masuk dalam rantai pasok global.

“UMKM adalah tulang punggung ekonomi ASEAN. Karena UMKM mewakili 89-99 persen dari seluruh perusahaan di ASEAN,” kata Jokowi seperti dikutip ANTARA.

Jokowi mengatakan percepatan transformasi digital UMKM bakal mendorong roda perekonomian kawasan. Ekosistem digital yang sudah dibangun Indonesia menjadi modal besar dalam memajukan digitalisasi ekonomi di ASEAN. Menurut Jokowi, Indonesia memiliki ekosistem digital yang menjanjikan.

“Indonesia punya 2.193 startup pada 2019, kelima terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki 1 decacorn dan 4 unicorn. Sejak tahun 2018 Indonesia mengembangkan peta jalan making Indonesia 4.0. Kami membangun industri manufaktur dan pengembangan pusat informasi. Kami memberikan insentif fiskal berupa super tax deduction bagi industri yang berinvestasi di R&D,” kata Presiden.

Startup bergelar unicorn adalah bisnis yang nilai valuasinya sudah mencapai 1 miliar USD atau setara Rp14 triliun. Sementara perusahaan berlevel decacorn adalah perusahaan yang mempunyai nilai valuasi 10 kali lipat dari Unicorn, yaitu sebesar 10 miliar USD atau sekitar Rp140 triliun.

Per Juni 2020, dilaporkan terdapat 441 juta orang atau sekitar 65 persen populasi di ASEAN adalah pengguna internet. Artinya, mereka sudah terakses dengan digitalisasi ekonomi. Ketergantungan dunia terhadap teknologi digital juga semakin tinggi. Di ASEAN sendiri, Jokowi menilai potensi ekonomi digital bisa mencapai 200 miliar dolar AS pada 2025 mendatang. Sedangkan Indonesia, potensi ekonomi digital bisa menyentuh 133 miliar dolar AS pada tahun 2025 nanti.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) menargetkan pembangunan infrastruktur jaringan 4G sebanyak 12.548 desa dan kelurahan pada tahun 2022. Adapun rinciannya, pihak pemerintah berencana membangun di 9.113 Desa dan Kelurahan daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), sedangkan pihak operator seluler sebanyak 3.435 Desa dan Kelurahan non 3T.

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyiapkan langkah-langkah strategis untuk mendukung pemanfaatan kecerdasan buatan, atau artificial intelligence (AI) sesuai dengan peta jalan nasional. Pertemuan Digital Economy Task Force G20 pada Oktober lalu menekankan pada pengembangan kecerdasan buatan yang bisa dipercaya dengan lima prinsip, yakni pertumbuhan inklusif, pembangunan berkelanjutan dan kesejahteraan; nilai-nilai dan keadilan yang berpusat pada manusia; transparansi dan penggunaan AI yang jelas; kekokohan, keamanan dan keselamatan implementasi AI; dan akuntabilitas penggunaan AI.

Indonesia melalui Strategi Nasional AI 2020-2045 juga mendukung prinsip tersebut, menyesuaikan pada visi nasional dan Pancasila sebagai jati diri bangsa.

“Kementerian Kominfo sebagai akselerator, fasilitator, dan regulator transformasi digital Indonesia, tentunya akan terus berkontribusi untuk meningkatkan pemanfaatan dan adopsi teknologi AI secara prudent (bijaksana), provident (cermat), dan trustworthy (terpercaya), serta sesuai dengan jati diri bangsa, melalui tiga langkah strategis,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika, Johnny G. Plate, dalam siaran pers, Minggu (15/11/2020).

Kominfo menyiapkan tiga langkah strategis untuk mendukung pemanfaatan AI di Indonesia, yaitu menyiapkan dan mengembangkan talenta digital yang cakap teknologi AI, memfasilitasi pengembangan ekosistem dan menyusun regulasi dan tata kelola. Untuk mewujudkan talenta digital, Kominfo akan fokus pada literasi teknologi AS dan pengembangan teknis kecakapan AI, demi meningkatkan kesadaran dan kepercayaan pemanfaatan AI.

“Pengetahuan teknis dibutuhkan karena banyak pekerjaan yang diproyeksikan akan tergantikan dengan AI seiring pemanfaatannya yang semakin masif,” kata Johnny.

Johnny mengutip studi lembaga McKinsey pada 2007 bahwa pengembangan AI di Indonesia berpotensi untuk otomasi 52% pekerjaan. Menurut Menkominfo, Indonesia sebetulnya sangat diuntungkan dengan adanya angkatan kerja muda di masa yang akan datang yang berasal dari Generasi Z, yang merupakan digital native, yang perlu dilakukan sekarang adalah memfasilitasi link and match antara manajemen talenta digital Indonesia dengan kebutuhan industri dan bisnis terkait AI.

“Robot akan mengambil pekerjaan manusia, tapi, juga menciptakan pekerjaan lainnya untuk manusia,” kata Johnny.

Kominfo memiliki program Digital Talent Scholarship, Gerakan Nasional Literasi Digital dan Digital Leadership untuk mengembangkan talenta digital selama beberapa tahun terakhir ini. Berkaitan dengan fasilitasi pengembangan ekosistem pendukung AI, termasuk riset dan inovasi, integrasi data serta infrastruktur pendukung, Kominfo menyikapinya dengan memperluas akses internet dan membangun Pusat Data Nasional.

Sementara itu, mengenai langkah ketiga, yaitu regulasi dan tata kelola, menurut Kominfo, aturan perlu fokus memfasilitasi pertukaran data operasi AI, mengedepankan keamanan privasi data pribadi, transparansi, akuntabilitas dan prinsip demokratis.

“Regulasi ini juga perlu memitigasi terjadinya unintended consequences (konsekuensi yang tak diinginkan) penggunaan AI, baik secara etik maupun praktik. Upaya ini sedikit banyak telah tercakup dalam langkah Kementerian Kominfo dengan memfasilitasi penyusunan RUU Perlindungan Data Pribadi (RUU PDP) untuk menjamin privasi dan keamanan data warga negara Indonesia secara lebih luas,” kata Johnny.

Optimalisasi pemanfaatan AI perlu dijalankan dengan prinsip komprehensif kolaboratif antara pemerintah, industri, akademisi dan masyarakat. Pendekatan lintas sektor ini diperlukan agar AI dikembangkan secara cermat, bijak dan tepat guna bagi masyarakat.