Alibaba Group mengumumkan kampanye Festival Belanja Global 11.11 2020 menghasilkan 498,2 miliar yuan atau sekitar Rp1.064 triliun gross merchandise volume (GMV) selama kampanye 11 hari, mulai 1 – 11 November. Angka ini meningkat 26 persen dibandingkan dengan festival serupa tahun 2019.

“Selama 12 tahun terakhir, inovasi telah menjadi inti dari 11.11 dan dalam perjalanannya menjadi festival konsumen global. 11.11 ditentukan oleh konsumen, pedagang dan mitra kami di seluruh ekosistem, dan juga penerima manfaat dari semua dukungan dari masyarakat,” kata Presiden Taobao dan Tmall, Jiang Fan, dalam keterangan tertulis, Kamis (12/11/2020).

“Kami akan terus fokus pada pengembangan infrastruktur digital kami dalam layanan yang memberdayakan pedagang dari semua ukuran untuk menemukan jalan menuju sukses dalam ekonomi digital,” tambahnya.

Alibaba juga mencatat lebih dari 470 brand mencapai lebih dari 100 juta yuan GMV. Lebih dari itu, Live streaming menjadi alat pemasaran yang sangat diperlukan, dengan Lebih dari 30 saluran live streaming ditampilkan di Taobao Live yang masing-masing menghasilkan lebih dari 100 juta yuan GMV.

Infrastruktur digital Alibaba juga tercatat menangani 583.000 pesanan per detik selama puncak aktivitas kampanye 11.11 tersebut. Cainiao Network memproses lebih dari 2,32 miliar pesanan pengiriman secara kumulatif selama periode 11 hari.

Festival Belanja Global 11.11 Alibaba tahun ini juga mencatat 250.000 brand secara total ikut berpartisipasi, di mana 31.000 adalah brand luar China, dan dari angka tersebut sebanyak 2.600 brand berpartisipasi di 11.11 untuk pertama kalinya. Lebih dari 1.800 brand melampaui GMV mereka dari 11.11 tahun lalu dan, dari jumlah tersebut, 94 brand baru menikmati pertumbuhan penjualan lebih dari 1.000 persen.

Di bawah inisiatif Spring Thunder Alibaba, 1,2 juta pedagang dan 300.000 pabrik berfokus pada perdagangan luar negeri dengan lebih dari 2.000 klaster industri di seluruh China berpartisipasi dalam 11.11. Catatan menarik lainnya adalah chatbot AI Alibaba untuk pelanggan menangani lebih dari 2,1 miliar kueri selama periode 11 hari.

Selanjutnya, Amerika Serikat adalah negara teratas yang menyumbang GMV ke China. Negara terlaris lainnya meliputi Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Korea, Selandia Baru dan Inggris.

Pandemi virus korona (coronavirus atau COVID-19) turut merubah perilaku konsumen dalam berbelanja. Studi terbaru dari Facebook IQ tentang Hari Belanja Online Nasional atau Harbolnas menunjukkan bahwa 43 persen Gen X dan Boomers mulai berbelanja online saat pandemi.

Generasi X adalah mereka yang lahir tahun 1965-1979, sementara generasi baby boomers adalah mereka yang lahir tahun 1944-1964. Studi terbaru menemukan Gen X dan Boomers mendominasi pertumbuhan seluler dan e-commerce. Selanjutnya, riset Facebook IQ juga menunjukkan bahwa sebanyak 70 persen mengatakan mereka akan lebih mau membeli dari sebuah bisnis jika mereka bisa mengirimkan pesan ke bisnis online tersebut.

Secara umum, Groceries atau barang kebutuhan pokok sehari-hari menjadi kategori yang paling mengalami kenaikkan, di mana 56 persen orang yang di survey di Indonesia menyatakan mereka melakukan lebih banyak pembelian online di kategori ini.

Studi Facebook IQ juga memperlihatkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia sensitif terhadap harga, yang menunjukkan bahwa 11.11 dan 12.12 menjadi acara obral besar yang paling populer di Indonesia. Periode obral besar seperti Harbolnas adalah waktu dimana orang melakukan eksplorasi kategori produk baru. Milenial, sebanyak 41 persen dari yang disurvei, adalah kelompok yang paling terbuka dengan produk baru.

Seiring dengan semakin bergantungnya orang pada pembelian online, pengalaman berbelanja online baru seperti Live shopping, Social Buying dan gamification atau belanja dengan cara bermain akan menarik perhatian calon pelanggan. Khusus untuk Harbolnas, studi Facebook IQ menunjukkan bahwa konsumen ingin melihat video yang menunjukkan bagaimana produk digunakan secara nyata untuk membantu mereka membuat keputusan.

Studi Facebook IQ juga menunjukkan, konsumen di Indonesia mengindikasikan mereka ingin melihat konten yang informatif (44 persen), konten yang
kreatif (42 persen), dan konten yang memberikan informasi terkini tentang promo/obral/diskon terbaru (39 persen).

Survei ini dilakukan terhadap 1.515 pembeli keperluan liburan di Indonesia yang berusia 18 tahun ke atas tentang kebiasaan dan sikap belanja akhir tahun mereka, bekerja sama dengan YouGov mulai dari 2 Desember hingga 24 Desember 2019. Studi ini kemudian dilengkapi juga dengan analisa berbagai sumber ketiga, termasuk di dalamnya Gelombang 1-3 dari Global Web Index Coronavirus Multi Market Study terhadap pengguna internet usia 18-64 tahun.

Penetrasi pengguna internet Indonesia di Indonesia meningkat dari 64,8 persen tahun 2018 ke 73,7 persen pada tahun 2019. Hal ini terungkap pada Hasil Survei Jumlah Pengguna dan Penetrasi Internet 2019-2020 (Q2) yang dilaksanakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII).

Jika diinterpretasikan dengan jumlah populasi masyarakat Indonesia 2019 menurut proyeksi BPS sebanyak 266 juta jiwa, maka jumlah pengguna internet Indonesia adalah 196,7 juta pengguna.

Angka tersebut naik 25,5 juta pengguna dari 171 juta jiwa pada 2018 atau naik 8,9 persen. Walau mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, secara absolut terjadi penurunan jumlah kenaikan dari 10,12 persen di tahun sebelumnya (27,9 juta) ke 8,9 persen (25,5 juta).

Sementara untuk kontribusi penetrasi, Jawa mendominasi 56,4 persen, diikuti oleh Sumatera sebanyak 22,1 persen, Sulawesi 7,0 persen, Kalimantan 6,3 persen, Bali dan Nusa Tenggara 5,2 persen, serta Maluku dan Papua 3,0 persen.

Adapun dari 26,3 persen masyarakat yang tidak menggunakan internet, 10,2 persen masyarakat yang tidak menggunakan internet, mengaku tidak tahu bagaimana cara menggunakan teknologi internet. Dengan demikian, sosialisasi kembali menjadi kunci untuk memperluas penetrasi internet di tengah masyarakat INdonesia.

Pergeseran dalam berinternet terjadi dari tahun ke tahun. Jika dahulu PC menjadi perangkat utama untuk menggunakan internet, riset APJII 2019-Q2 2020 menunjukkan sebanyak 73,2 persen pengguna tidak menggunakan PC untuk berinternet. Sementara yang pengguna internet yang menggunakan laptop sebesar 19,7 persen, pengguna internet paling banyak melalui smartphone sebesar 95,4 persen.

Mengenaii cara mereka terhubung dengan internet, sebanyak 97,1 persen pengguna menyampaikan menggunakan paket data atau kuota dari operator seluler, sedangkan hanya sedikit yang menggunakan fixed broadband.

Tahun ini, APJII menghadapi kendala dalam melakukan survei. Biasanya, APJII melakukan survei tahunan pada Q1 namun karena terkendala pandemi survei baru dilakukan pada Q2 2020. Survei tersebar di seluruh provinsi dan ibukota provinsi, sesuai dengan sebaran angka Badan Pusat Statistik (BPS).

Survei dilakukan dengan metode teknik sampling, dengan jumlah 7.000 sampel, dan tingkat kesalahan mencapai 1,27 persen, sedangkan level of confidence 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan interview atau wawancara dengan kuesioner.

Munculnya pandemi yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, secara tidak langsung ikut mengubah tatanan proses bisnis perusahaan. Jika biasanya kolaborasi dan akses data dilakukan lewat on-premise, kini proses berbagi dan bertukar data mulai dilakukan dengan bantuan cloud.

Berdasarkan laporan bertajuk 2020 Progress Data Connectivity Report (2020), lebih dari 56 persen perusahaan di Amerika Serikat yang mulai memikirkan penggunaan cloud di tahun ini. Adopsi cloud juga mulai dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia karena efisiensi data serta keamanan yang ditawarkannya.

Meski begitu, laporan ini juga menyebut bahwa adopsi cloud tetap tak lepas dari berbagai kendala. Salah satunya yaitu masalah konektivitas, terutama ketika perusahaan mulai mengintegrasikan data cloud dengan on-premise. Untuk itu, perusahaan tak hanya perlu memperhatikan proses implementasi cloud, konektivitas internet yang mumpuni pun harus diprioritaskan. Mengingat tanpa koneksi internet, perusahaan tentu tidak bisa mengembangkan infrastrukturnya di cloud.

Agar produktivitas kian maksimal, satu pengguna setidaknya memerlukan bandwidth minimum 80 kbps untuk mengakses cloud. Namun, kebutuhan ini tentu akan meningkat tergantung dengan jumlah user. Artinya, semakin besar penggunaan, maka semakin besar juga bandwidth yang harus disediakan perusahaan. Hal ini tentu jadi permasalahan baru, apalagi investasi jaringan internet kerap membutuhkan biaya investasi yang tinggi di muka. Padahal, tujuan awalnya yaitu ingin menekan biaya tambahan di tengah situasi ekonomi saat ini.

Salah satu solusi yang dapat dipilih perusahaan untuk mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkan layanan Network-as-a-Service (NaaS). Dikutip dari laman Data Flair, NaaS merupakan sebuah layanan yang menyediakan infrastruktur jaringan pada pelanggan, sehingga pelanggan dapat menikmati konektivitas yang dapat diandalkan, aman, dan cepat.

Berbeda dengan sistem konvensional yang hanya menyediakan koneksi internet, NaaS justru memiliki scope yang lebih lengkap. Terutama jika perusahaan merupakan pemain skala besar. Lewat NaaS, perusahaan tak hanya bisa menikmati integrasi data center antar headquarter dengan kantor cabang, tetapi juga integrasi antar perangkat Internet of Things (IoT).

Selain itu, layanan ini juga memfasilitasi karyawan yang bekerja dari rumah melalui koneksi aman menuju cloud saat mentransfer atau mengakses data. Bahkan, penggunaan NaaS dapat menekan 20-30 persen biaya TI perusahaan. Dengan model bisnis NaaS, perusahaan juga tidak perlu melakukan konfigurasi dan pengoptimalan jaringan internet. Sebaliknya, perusahaan justru bisa mendapatkan benefit berupa return of investment (ROI) yang jauh lebih tinggi.

Survei Deloitte pada 2018 menemukan 55 persen perusahaan di Amerika Serikat lebih memilih berfokus mendorong efisiensi lewat bantuan teknologi seperti NaaS, dalam rangka menghilangkan permasalahan teknis yang mengganggu proses transformasi digital. Artinya, perusahaan tak lagi dipusingkan dengan set up, konfigurasi, dan perbaikan yang mungkin diperlukan. Melalui NaaS, perusahaan dapat lebih fokus menciptakan goals-nya di masa mendatang.

Namun, perusahaan pun perlu memilih mitra penyedia dan layanan NaaS yang tepat agar implementasi teknologi cloud dan proses migrasi berjalan mulus. Perusahaan perlu melihat adanya portfolio dan latar belakang vendor terlebih dahulu. Vendor harus memiliki integrasi yang kuat terhadap para penyedia layanan cloud.

Di tengah kemajuan teknologi, sarana telekomunikasi sudah semakin berkembang. Jika dulu terbatas pada mengirim pesan teks (sms) atau telepon, kini pengiriman pesan instan (instant messaging) menjadi saluran komunikasi yang paling populer di dunia. Salah satunya adalah WhatsApp atau WA. Dengan fitur mengirim pesan chat, gambar, dokumen, hingga video call jumlah pengguna WhatsApp kian hari kian banyak.

CEO Facebook, perusahaan yang telah mengakuisisi WhatsApp sejak 2014 lalu, Mark Zuckerberg mengatakan saat ini jumlah pengguna aplikasi WhatsApp telah menembus angka dua miliar pengguna secara global. Seperti dikutip dari TechCrunch, total keseluruhan pesan yang dikirimkan oleh pengguna aktif melalui aplikasi WA dilaporkan mencapai 100 miliar pesan setiap harinya. Adapun negara dengan jumlah pengguna paling banyak adalah India.

Sebagai gambaran, pada awal 2014 pesan yang dikirimkan pengguna WhatsApp secara keseluruhan tercatat mencapai sekitar 50 miliar pesan per hari. Kemudian di awal 2016, angkanya meningkat menjadi 60 miliar pesan setiap harinya. Menurut laporan dari App Annie, WA menjadi aplikasi pesan instan paling populer di seluruh dunia berdasarkan jumlah pengguna aktif bulanan (monthly active user atau MAU) pada 2019.

Walau begitu, popularitas WhatsApp belum menyebar secara merata di setiap negara. Di Amerika Serikat misalnya, banyak pengguna yang menggunakan aplikasi pesan instan lain seperti iMessage milik Apple.

Salah satu keunggulan WhatsApp yang kerap dibanggakan pengembang ialah sistem enkripsi end-to-end yang digunakan sebagai keunggulan platformnya. Mereka mengklaim tidak ada pihak ketiga yang bisa membaca pesan, termasuk pihak WhatsApp sendiri, kecuali si penerima dan pengirim.

“Enkripsi yang kuat adalah keniscayaan di kehidupan modern. Kami tidak akan berkompromi dengan keamanan karena hal itu bisa membuat orang menjadi tidak aman,” tulis WhatsApp seperti dikutip dalam blog resminya.

Lebih lanjut, WhatsApp juga mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan ahli keamanan dan menerapkan teknologi canggih untuk menghentikan penyalahgunaan platform.

“WhatsApp didirikan guna menciptakan layanan yang sederhana, terpercaya, dan privat. Saat ini kami masih memiliki komitmen yang sama, untuk membantu menghubungkan dunia secara privat dan melindungi komunikasi personal bagi dua miliar pengguna kami,” tulis WhatsApp.

Menjalankan suatu usaha atau bisnis tak selamanya membutuhkan modal yang besar. Beberapa bisnis bisa dijalankan hanya dengan modal kurang dari Rp5 juta. Usaha dengan modal kecil ini diharapkan dapat membantu masyarakat menambah pundi-pundi pemasukan, khususnya di tengah perekonomian yang melemah akibat pandemi ini.

Apa saja jenis-jenis bisnis yang bisa dimulai dengan modal kurang dari Rp5 juta? Berikut pembahasannya.

1. Counter Pulsa

Walau sekarang marak pembelian pulsa lewat internet maupun aplikasi, beberapa orang masih belum akrab dengan metode tersebut. Hal ini menyajikan peluang tersendiri untuk Anda yang ingin memulai bisnis membuka counter pulsa. Apalagi jika Anda tinggal di wilayah yang cukup padat penduduknya, bisnis ini sangat tepat untuk di jalankan dari rumah.

Selain menawarkan pulsa untuk beragam operator, Anda juga bisa menawarkan kartu perdana. Biasanya masyarakat malas untuk merepotkan diri membeli perdana di gerai resmi operator, lantaran antrian yang panjang dan mekanisme yang lebih ribet. Hal inilah yang bisa Anda manfaatkan sebagai peluang bisnis.

Jika dihitung-hitung, yang Anda butuhkan untuk memulai bisnis ini hanyalah handphone, server pulsa, etalase kaca, stok kartu, dan banner promosi yang semuanya kurang dari Rp3,2 juta. Anda bisa membuka bisnis ini di rumah Anda guna menghemat biaya sewa.

2. Membuka Usaha Makanan Ringan

Usaha makanan ringan bisa menjadi pilihan bisnis dengan modal kecil berikutnya yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Makanan ringan yang biasa dijual seperti keripik singkong, keripik pisang, keripik kentang, dan sebagainya.

Pertama-tama, tentukan jenis makanan ringan apa yang ingin dijual. Supaya terkesan lebih profesional, gunakan merk sendiri pada bungkusan makanan yang akan dijual. Untuk ukuran kemasan, siapkan kemasan kecil, sedang maupun besar.

Pasarkan produk Anda dengan cara yang mudah dan hemat. Misalnya dengan menitipkan dagangan ke warung-warung kelontong, menitipkan ke pedagang di pasar tradisional bahkan, atau ke rumah makan disekitar tempat kamu. Total, modal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp2-3 jutaan.

3. Bisnis Laundry

Bisnis ini menjadi pilihan ideal bagi mereka yang tinggal di kawasan perumahan, khususnya di sekitar kost mahasiswa/i atau karyawan/ti. Walau hanya memiliki modal minim, Anda masih bisa menjalankan bisnis ini. Dengan mesin cuci, Anda hanya perlu membeli pewangi, setrikaan hingga pengering baju otomatis (Air O Dry).

Jika ditotal, maka modal awal yang perlu perlu disiapkan sekitar Rp 4,2 juta untuk membeli semua peralatan dan perlengkapan dasar. Promosikan bisnis Anda ke tetangga dan wilayah pemukiman sekitar. Pastikan pula Anda menjalankan bisnis ini dengan benar, supaya konsumen Anda tidak kapok dan bersedia kembali mencuci pakaiannya di tempat Anda.

4. Jasa Menjahit

Jika Anda memiliki kemampuan menjahit, maka Anda bisa memanfaatkan keahlian untuk menjalani usaha jasa menjahit rumahan. Yang Anda perlukan hanyalah mesin jahit, obras, perlengkapan jahit dan materi promosi untuk memperkenalkan usaha Anda.

Modal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp3 jutaan untuk membeli peralatan dan perlengkapan tersebut. Anda juga bisa menjalani bisnis ini di garasi rumah Anda, dengan tentunya tetap menjamin pelayanan yang maksimal. Bisnis ini juga cocok untuk Anda yang tinggal di sekitar sekolah dan perumahan.

5. Jual Beli Barang Bekas

Alternatif bisnis berikutnya ialah jual beli barang bekas. Dengan banyaknya marketplace yang disediakan di berbagai situs layanan, kini untuk menjalankan bisnis ini sangat mudah dan cepat. Anda juga tidak perlu menyewa tempat atau toko, karena bisa memulai bisnis ini dari rumah.

Lakukan pemasaran melalui internet, supaya orang dengan mudah mengetahui dan membeli berbagai barang yang Anda jual. Barang bekas bisa berupa pakaian, tas, atau barang elektronik.

Pendanaan perusahaan rintisan (startup) diyakini tidak tergoyahkan, di tengah melemahnya perekonomian akibat pandemi COVID-19. Hal ini diungkapkan oleh Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo). Statistik tren pendanaan hingga kuartal III 2020 masih menunjukkan pertumbuhan positif dan diyakini akan berlanjut di kuartal IV 2020.

Dalam webinar bertajuk “Mengupas Dinamika dan Tren Pendanaan Startup 2020-2021”, Wakil Ketua I Amvesindo, William Gozali mengungkap hingga kuartal III 2020 jumlah pendanaan startup di Indonesia mencapai US$1,9 miliar atau Rp 26,6 triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 52 startup. Diprediksi, total pendanaan startup hingga kuartal IV 2020 bisa menyentuh angka US$2 miliar.

Sebagai gambaran, total pendanaan tahun 2018 mencapai US$1,46 dengan jumlah transaksi mencapai 71 startup. Sementara pada 2019 mengalami peningkatan hingga US$2,95 miliar dengan jumlah transaksi sebanyak 113 perusahaan rintisan.

Untuk data tahun 2020, perusahaan rintisan berbasis finansial teknologi (fintech) menduduki peringkat pertama dengan jumlah transaksi sebanyak 8 startup, Edutech dengan 6 jumlah transaksi, diikuti Software as a service (SaaS) sebanyak 6 transaksi.

Kopi Kenangan menjadi salah satu startup yang memperoleh pendanaan baru cukup besar dengan investasi pada Mei 2020 sebesar US$109 juta. Selanjutnya, Kargo Technologies yang menerima pendanaan sebesar US$31 juta, GudangAda sebesar US$25,4 juta, Investree US$23,5 juta, Koinworks US$20 juta, dan Shipper US$20 juta.

Dalam pandangan asosiasi, kenaikan pendanaan menjadi berita yang cukup menggembirakan. Hal ini menunjukan optimisme industri untuk tetap berinovasi di tengah pandemi COVID-19.

Belakangan ini, banyak perusahaan modal ventura (PMV) yang memberikan suntikan modal ke berbagai usaha rintisan alias startup di Tanah Air untuk membantu mereka mengembangkan bisnisnya. Namun, para PMV itu tentunya tidak asal mengucurkan dana ke startup yang belum tentu menjanjikan prospek di masa depan.

Mereka tentu tidak main-main dan tidak sembarangan memberikan suntikan dana. Tentu mereka berharap dengan adanya suntikan dana tersebut, perusahaan yang disuntik atau diberikan dana pun bisa jauh berkembang, bukan malah sebaliknya.

Dikutip dari Kompas.com, Wakil Ketua I Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (AMVESINDO), William Gozali mengatakan setidaknya ada 4 poin yang menjadi pertimbangan para modal ventura ketika memutuskan akan memberikan suntikan dana ke startup atau ke para UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.

Apa saja keempat hal itu? Berikut ulasannya.

1. Potensi Pertumbuhan

PMV akan melihat sebesar apa potensi pasar yang dimiliki oleh startup tersebut. Apabila keadaan pasar di suatu daerah cukup besar dan terus berkembang, bisa mendorong pertumbuhan produk yang juga cukup besar.

Dua hal ini  saling berkaitan dan apabila potensi pertumbuhan di suatu perusahaan tidak cukup berkembang, maka PMV pun tidak memiliki keinginan untuk memberikan suntikan modal.

2. Kemampuan Beradaptasi

Startup tentunya perlu untuk terus bisa menyesuaikan diri dengan ketidakpastian yang ada saat ini. Khususnya di tengah pandemi COVID-19 yang membuat risiko ketidakpastian menjadi kian tinggi. Contohnya seperti yang dilakukan oleh perusahaan di bidang ride hailing yang tergerus bisnisnya akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun, setelah beberapa lama, perusahaan ini pun bisa kembali beradaptasi dan mendiversifikasi bisnisnya. Caranya adalah dengan membuat layanan pengantaran makanan dan pengantaran logistik. Kemampuan untuk beradaptasi inilah yang membuat startup tersebut  layak untuk dipertimbangkan para PMV.

3. Kualitas Founder

Para PMV juga akan melihat siapa sosok pendiri yang berada di perusahaan tersebut. Hal ini demi memastikan apakah perusahaan tersebut benar-benar di tangan yang tepat atau tidak.

Mengingat investasi yang dilakukan bersifat jangka panjang yang biasanya membutuhkan waktu 5-10 tahun, maka perlu sosok yang dapat bertanggungjawab dalam mengelola kucuran dana tersebut dengan benar, yakni untuk menumbuhkan startup tersebut juga secara jangka panjang.

4. Efisiensi

Yang terakhir namun tak kalah penting ialah mengenai efisiensi perusahaan dalam penggunaan dana biasanya juga diperhatikan. PMV akan melihat apakah calon perusahaan yang diberikan suntikan dana mempunyai model bisnis yang jelas atau tidak.

Microsoft melaporkan peningkatan pengguna aktif yang terus meningkat selama masa pandemi COVID-19 enam bulan terakhir. CEO Microsoft, Satya Nadella menyebut jumlah pengguna tersebut mengalami lonjakan sebesar 50 persen, dimana saat ini Microsoft Teams memiliki 115 juta pengguna aktif harian.

Seperti dikutip dari The Verge, Nadella mengklaim angka ini meningkat lebih dari 50 persen dari 75 juta yang dilaporkan Microsoft sekitar enam bulan lalu. Microsoft juga terus meningkatkan fitur Teams selama pandemi. Salah satunya ialah Together Mode, yang dirancang khusus untuk pertemuan era pandemi serta memungkinkan peserta untuk duduk bersebelahan secara virtual.

Sementara itu, Microsoft juga telah membuka pintu Teams untuk aplikasi pihak ketiga, menyediakan layanan bagi konsumen, serta menjanjikan sejumlah fitur baru, termasuk ruang terobosan pada akhir tahun. Walau begitu, Microsoft mengaku belum bisa menyaingi pesaingnya, Zoom atau Google karena peserta aktif harian Google tercatat memiliki 100 juta peserta aktif harian awal tahun ini. Adapun Zoom mengklaim memiliki 300 juta peserta aktif harian.

Meski masih belum bisa menyaingi kedua pesaingnya, Nadella optimistis pengguna Microsoft akan terus meningkat setelah Microsoft membuka pintu Teams untuk aplikasi pihak ketiga. Nadella juga menyampaikan salah satu anak perusahaan Microsoft, LinkedIn saat ini memiliki 722 juta pengguna. LinkedIn telah berkembang secara bertahap dan menambah pendapatan Microsoft sejak perusahaan mengakuisisi jejaring sosial tersebut senilai USD26 miliar pada 2016 lalu.