Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) oleh pemerintah membuat banyak orang harus kembali melakukan aktivitasnya dari rumah saja. Aturan tersebut dibuat untuk mencegah meluasnya penyebaran virus corona. Meski punya tujuan positif, menjalani aktivitas dari rumah saja bukanlah perkara mudah. Keterbatasan ruang gerak dapat memicu rasa bosan dan berdampak negatif pada kesehatan mental.

Setidaknya 34,1 persen orang yang pernah menjalani physical distancing selama pandemi mengaku mengalami salah satu gangguan psikologis, seperti kecemasan, depresi, insomnia, dan stres akut. Untuk mencegah kondisi tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan di rumah. Salah satunya adalah melakukan aktivitas menyenangkan yang dapat mengusir rasa bosan.

Berikut beberapa kegiatan menyenangkan yang dapat dilakukan selama menjalani aktivitas di rumah, dikutip dari Kompas.com.

Bermain Game Online

Untuk Anda yang bingung harus mengisi waktu luang dengan aktivitas apa selama pandemi, bermain game online bisa jadi solusi mengisi kegiatan seru selama berada di rumah. Game online dapat menjadi alternatif hiburan untuk mengusir kebosanan. Selain itu, Anda juga bisa berinteraksi dengan sesama pemain game online dari berbagai penjuru dunia.

Fungsi sebagai sarana hiburan dan interaksi sosial dalam bermain game online ternyata berdampak positif bagi kesehatan mental. Hal tersebut dibuktikan lewat studi yang dilakukan Universitas Oxford. Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa bermain game dalam durasi waktu lama mampu memberikan pengaruh positif terhadap perasaan sejahtera atau bahagia seseorang.

Menonton Film

Tak hanya game, menonton film juga menjadi cara ampuh untuk mengusir rasa bosan. Banyaknya genre pada film dapat menjadi opsi agar Anda dapat memilihnya sesuai selera. Selain itu, dengan menonton film, Anda juga dapat mempelajari berbagai hal baru. Saat ini, sudah banyak platform menonton online seperti Netflix, Catchplay, Hulu, dan HBO Go.

Anda dapat menyaksikan berbagai genre film ataupun serial untuk mengisi waktu luang selama sedang di rumah saja.

Berolahraga

Kegiatan satu ini sangat dianjurkan selama pandemi. Tidak hanya mengusir kebosanan, olahraga juga membuat tubuh jadi bugar dan sehat. Dengan begitu, sistem imunitas turut meningkat. Ada banyak pilihan olahraga yang bisa Anda lakukan di rumah, antara lain olahraga kardio, calisthenics, dan yoga. Lakukan aktivitas tersebut setidaknya selama 30 menit tiap harinya.

Sebagai panduan, Anda bisa mencari tutorial olahraga di rumah yang kini banyak diunggah di Youtube.

Memasak

Memasak menjadi salah satu kegiatan yang cukup digandrungi di masa pandemi. Hal tersebut terlihat dari banyaknya unggahan resep dan viral di media sosial. Fenomena itu mendorong para praktisi kuliner turut bergerak membagikan konten seputar masak-memasak di Youtube. Cara ini diharapkan dapat membantu masyarakat, khususnya pemula yang ingin belajar masak.

Membuat Kerajinan Tangan

Selain empat aktivitas di atas, membuat kerajinan tangan juga dapat membantu mengurangi kebosanan selama pandemi. Nilai tambahnya, selain bisa dipakai sendiri, hasil kerajinan tersebut bisa dijual untuk menambah pemasukan Anda.

Sebelum membuat, Anda dapat mencari referensi yang ada di internet. Bisa pula dengan menonton video tutorial yang ada di layanan streaming video.

Sejumlah negara di dunia mulai menggelar layanan 5G secara komersil. Vendor-vendor ponsel pun mulai merilis ponsel dengan dukungan teknologi jaringan generasi kelima ini. Untuk dapat menikmati layanan 5G, tentu saja jaringan dan perangkatnya harus tersedia. Nah, saat ini, terdapat dua jenis teknologi jaringan 5G yang digunakan di oleh berbagai negara, yaitu teknologi Sub-6GHZ dan mmWave.

Meski demikian, satu negara bisa saja menggunakan lebih dari satu jenis jaringan, misal Sub-6GHz untuk frekuensi rendah, dan mmWave sekaligus untuk frekuensi tinggi. Lantas apa perbedaan antara jaringan 5G yang menggunakan teknologi Sub-6 GHz dan mmWave? Dikutip dari Kompas Tekno, berikut penjelasannya.

Beda Sub-6 GHz dan mmWave

Sub-6GHZ merupakan teknologi 5G yang menggunakan frekuensi pita rendah, di bawah 6 Ghz. Teknologi jenis ini sudah digunakan oleh beberapa provider asal AS, contohnya seperti AT&T dan T-Mobile. Sementara itu, mmWave (Milimeter-wave) adalah frekuensi pita yang tergolong cukup tinggi, dengan kecepatan antara 24 Ghz – 40 Ghz.

Tingginya bandwidth yang dihasilkan mmWave mengakibatkan teknologi ini mampu menawarkan kecepatan akses yang lebih cepat. Meski demikian, jangkauan wilayah yang dimiliki mmWave tidak seluas cakupan Sub-6GHZ. Untuk menggunakan mmWave, pengguna harus berada dalam jarak sekitar 100 meter dari menara pemancar sinyal (BTS). Oleh sebab itu, mmWave terbilang mahal, karena memerlukan banyak BTS untuk menjangkau area yang cukup luas.

Lantaran karakteristiknya yang minim, mmWave dinilai cocok digunakan di wilayah padat perkotaan. Sebaliknya, Sub-6GHz diklaim lebih baik didirikan di pedesaan atau daerah pinggiran kota. Selain memiliki jangkauan yang lebih luas dan dapat menembus objek dengan lebih baik, Sub-6GHz juga membutuhkan biaya yang jauh lebih murah.

Kecepatan Sub-6 GHz dan mmWave

Secara teori, mmWave menawarkan akses kecepatan hingga 5 Gbps. Namun kecepatan tersebut dapat bervariasi, tergantung jarak pengguna dengan BTS terdekat. Dihimpun dari Mac Rumors, Minggu (7/2/2021), Sub-6GHz diklaim menawarkan kecepatan hingga angka 200 Mbps.

Sebagai perbandingan, Sub-6GHz mampu menghasilkan kecepatan rata-rata unduhan di angka 50,9 Mbps. Meski lebih rendah dari mmWave, namun secara teori lebih kencang dibanding 4G LTE, yang rata-rata berkisar 28,9 Mbps. Sebagai catatan, data ini diambil berdasarkan riset yang dilakukan OpenSignal ketika mengukur kecepatan unduhan operator-operator seluler di AS.

Frekuensi Ideal di Indonesia

Bagaimana dengan kesiapan Indonesia dalam menyediakan frekuensi untuk 5G? Kemenkominfo sendiri mengatakan akan menyiapkan tiga layer spektrum untuk menggelar jaringan 5G di Tanah Air. Tiga layer itu terdiri dari pita atas (upper band) di 26 GHz, pita tengah (middle band) di frekuensi 2,6 GHz, dan pita bawah (lower band) di 700 MHz – 800 MHz.

Namun belum diketahui kapan Kominfo akan menggelar lelang untuk frekuensi di tiga layer tersebut. Sementara Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Muhammad Ridwan Effendi mengatakan spektrum yang ideal digunakan untuk menggelar 5G adalah pita frekuensi 2,6 GHz atau 3,6 GHz (Sub-6 GHz).

Pendapat itu senada dengan laporan GSM Association (GSMA) yang berjudul “5G Spectrum: GSMA Public Policy Position” yang dipublikasikan pada Maret 2020 lalu. Dalam laporan itu disebutkan bahwa pita frekuensi 2,5 GHz di rentang 3,3 GHz-3,8 GHz cukup umum digunakan beberapa negara yang telah menggelar 5G, seperti Korea Selatan.

Namun di sisi lain, jumlah negara yang menggunakan pita frekuensi 3,8 GHz-4,2 GHz juga mulai meningkat. Negara-negara yang menjadi pengguna awal 5G seperti China dan Jepang, bahkan menggunakan pita frekuensi 4,5 GHz – 5 GHz.

Mulai bulan ini, peraturan baru pemerintah soal pengenaan pajak untuk pulsa seluler, voucher, kartu perdana, dan token listrik, berlaku efektif. Ketika diumumkan pada 29 Januari lalu, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021 ini sempat menimbulkan pro dan kontra karena selain menghasilkan pendapatan bagi negara, kebijakan ini dianggap berat bagi masyarakat dengan mengenakan pajak untuk hal-hal yang esensial di masa pandemi ini, yakni pulsa seluler dan listrik.

Melalui aturan tersebut, pemerintah mengenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 10 persen dan Pajak Penghasilan (PPh) 0,5 persen, yang dipahami sebagai “harga naik” oleh masyarakat, meskipun Menteri Keuangan Sri Mulyani kemudian memastikan bahwa tidak ada pungutan pajak baru dalam ketentuan itu.

Ketua Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi Insitut Teknologi Bandung, Ian Joseph, kepada ANTARA menyatakan harga yang sampai ke konsumen semestinya tidak terdampak karena hanya pedagang di tingkat tertentu yang dipungut pajak.

PPN untuk pulsa dan kartu perdana dikenakan hingga distributor tingkat kedua atau server. Kementerian Keuangan menyatakan pengecer dan konsumen tidak lagi dikenakan PPN. Sementara untuk token listrik, PPN dikenakan untuk jasa penjualan atau pembayaran token listrik dalam bentuk komisi atau selisih harga yang diperoleh agen penjual, bukan untuk nilai token listrik.

Berkaitan dengan PPh sebesar 0,5 persen, pajak tersebut dipotong dimuka. Besaran ini dipungut dari nilai yang ditagih oleh penyelenggara distribusi tingkat kedua, kepada distribusi tingkat selanjutnya. Dengan kata lain, harga jual eceran pulsa dan token listrik yang sampai ke konsumen semestinya tidak berubah setelah aturan ini berlaku.

Pungutan PPN dan PPh untuk kartu perdana, pulsa, voucher dan token listrik bukan hal yang baru, seperti yang ditegaskan Menteri Keuangan melalui unggahan di Instagram, bahwa tidak ada pungutan pajak baru melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021.

PPN untuk jasa telekomunikasi sudah dipungut sejak lebih dari 30 tahun yang lalu, melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah, serta Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 tentang Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Atas Penyerahan Barang Kena Pajak Yang Dilakukan Oleh Pedagang Besar dan Penyerahan Jasa Kena Pajak di samping Jasa yang Dilakukan Oleh Pemborong.

Dalam Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 disebutkan bahwa “jasa penerbangan dalam negeri dan jasa telekomunikasi dikenakan pajak”. Kementerian Keuangan menyatakan salah satu kendala yang sering ditemui di lapangan di kalangan distributor dan pengecer, secara administrasi mereka belum mampu menjalankan kewajiban mereka hingga menimbulkan perselisihan dengan Kantor Pajak.

Ada kalanya pajak dianggap memberatkan pengecer, namun petugas bisa menagihkan pajak karena ada objek yang terkena pajak. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021 bertujuan mengatasi masalah tersebut yaitu dengan memberikan kepastian status pulsa sebagai barang yang kena pajak.

“Ketika kita beli pulsa, sebenarnya sudah kena PPN dan PPh,” kata Ian.

Distributor, dijelaskan Ian, membeli pulsa dalam jumlah banyak dan sudah dikenakan pajak dalam transaksi tersebut. Ian berpendapat dengan dituangkan ke dalam Peraturan Menteri dan informasi ini tersebar luas, masyarakat kini bisa mengetahui bahwa jasa telekomunikasi pun tidak luput dari pajak. Kebijakan yang diturunkan menjadi Peraturan Menteri ini akan memberikan kepastian hukum karena tata cara tertuang di peraturan tersebut.

Jika penjual bisa mencantumkan berapa harga pulsa tersebut dan berapa besar pajak yang dikenakan, maka akan menjadi lebih transparan. Dia menyoroti pengenaan pajak terhadap tarif promosi, yang sering diberikan ketika masa pandemi ini. Menurut Ian, pajak sebaiknya dikenakan pada harga tarif asli, sebelum promosi.

Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) menyatakan mereka terus melanjutkan diskusi terkait Peraturan Menteri Keuangan Nomor 6/PMK.03/2021, baik dengan operator seluler maupun dengan Kementerian Keuangan. Wakil Ketua Umum ATSI Merza Fachys mengatakan terus melakukan diskusi, termasuk dengan Direktorat Jenderal Pajak untuk mendapatkan pemahaman yang benar, juga untuk jalur distribusi industri ini.

ATSI juga menegaskan tidak ada pungutan pajak baru dalam Peraturan Menteri Keuangan terbaru ini, namun berisi aturan untuk mekanisme pembayaran dan pelaporan pajak. Wajar jika kebijakan ini langsung mendapatkan respons dari masyarakat karena selama pandemi virus corona ini aktivitas yang menggunakan listrik dan pulsa seluler meningkat karena banyak orang bekerja dari rumah (work from home) dan anak sekolah juga belajar daring.

Telkomsel, sebagai salah satu operator seluler terbesar di Indonesia, berkaitan dengan aturan pajak pulsa dan kartu perdana menyatakan sedang membahas secara internal.

“Kami saat ini masih mengkaji dan mempelajari aturan baru yang diberlakukan oleh Kementerian Keuangan RI tersebut secara internal, guna mengetahui implikasi secara menyeluruh dalam skema bisnis produk dan layanan Telkomsel,” kata Vice President Corporate Communications Telkomsel, Denny Abidin, dikutip dari ANTARA.

Operator seluler lainnya, termasuk Telkomsel, sedang berkoordinasi dengan Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI) atas aturan ini.

“Telkomsel juga akan segera berkoordinasi dengan ATSI untuk memastikan proses penerapan aturan baru tersebut dapat mendukung penguatan industri telekomunikasi di Indonesia secara umum,” kata Denny.

Telkomsel pada awal pandemi virus corona di Indonesia Maret lalu, mencatat kenaikan lalu lintas (traffic) data internet sebanyak 5 persen. Sementara saat libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 lalu, kenaikan lalu lintas data melalui layanan internet Telkomsel mencapai 53,28 persen.

Dengan semakin jelasnya ketentuan pajak pulsa seluler, voucher, kartu perdana, dan token listrik serta kegamblangan bahwa itu tidak berdampak bagi harga di tingkat konsumen, maka ketentuan baru Menteri Keuangan itu diharapkan bisa mendorong peningkatan pendapatan negara dan juga bisnis dan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Di era yang serba online, kebocoran data menjadi salah satu hal yang kerap terjadi. Kali ini, ada 3,27 miliar alamat e-mail beserta password yang bocor di forum peretasan populer. Kebocoran data yang dikenal sebagai Compilation of Many Breaches (COMB) mengandung kredensial dari akun berbagai platform, termasuk Netflix, LinkedIn, Exploit.in, Bitcoin, dan lainnya.

Sebagaimana dilaporkan Cyber News, dikutip dari Kompas Tekno, kebocoran data ini tampaknya bukan kebocoran data baru, melainkan kompilasi terbesar dari beberapa kasus kebocoran data sebelumnya. Data COMB saat ini diarsipkan dan dimasukkan ke tempat yang terenkripsi, dan dilindungi kata sandi.

Belum diketahui database punya siapa saja yag bocor dan dimasukkan ke dalam COMB ini. Namun, dari sampel yang dilihat oleh CyberNews, mengindikasikan bahwa akun dan password e-mail itu berasal dari domain di seluruh dunia. Sebagai informasi, pada kebocoran data COMB 2017 lalu, jumlah data yang terekspos lebih sedikit jika dibandingkan dengan kebocoran tahun 2020 ini, yakni 1,4 miliar kredensial akun.

Ketika COMB 2017 terekspos, firma keamanan siber 4iQ menguji sebagian kecil kata sandi untuk verifikasi, ternyata sebagian besar kata sandi yang diuji berfungsi. Baik kebocoran COMB pada tahun 2017 dan 2020, keduanya disusun menurut urutan abjad yang terstruktur, dan berisi skrip yang sama untuk query e-mail dan sandi.

Menurut Cyber News kebocoran data seperti COMB ini dapat membuat menimbulkan beberapa ancaman bagi pengguna yang menjadi korban. Salah satunya ialah korban menjadi target phising dan e-mail spam. Untuk itu, pengguna disarankan untuk menggunakan kata sandi unik di setiap akun. Lalu, pengguna juga disarankan untuk menambahkan otentikasi multifaktor, seperti Google Authenticator, pada akun mereka.

Dengan begitu, meskipun penjahat siber memiliki kredensial akun, mereka tidak akan bisa masuk ke akun tersebut. Cyber News memberikan saran untuk mengamankan akun dengan dua langkah, yakni menggunakan password manager dan selalu gunakan otentikasi dua faktor (2FA). Cyber News mengklaim telah menampung 15,2 miliar akun dan 2,5 miliar e-mail unik di database miliknya tersebut.

Membeli perangkat baru cenderung mahal. Tak heran apabila sebagian orang memilih membeli perangkat bekas yang dijual kembali oleh pemilik sebelumnya demi menghemat uang. Namun, penelitian terbaru oleh para ahli Kaspersky menemukan bahwa sebagian besar perangkat ini belum dihapus seutuhnya saat akan dijual, sehingga informasi pemilik sebelumnya berisiko dapat diakses oleh pihak ketiga.

Selama dua bulan, para peneliti Kaspersky menganalisis lebih dari 185 perangkat media penyimpanan, seperti kartu memori dan hard drive, dan menemukan bahwa 90 persen data tersisa di perangkat tersebut. Dari 90 persen isian data, 16 persen memberikan akses secara langsung ke informasi tersebut, sementara 74 persen lainnya diekstraksi menggunakan ukiran file (file carving) — metode untuk memulihkan file dari ruang yang tidak beralamat pada media penyimpanan.

Data yang ditemukan berkisar dari entri kalender berisi catatan rapat hingga foto dan video pribadi, bahkan dokumen pajak, informasi perbankan, kredensial login, dan informasi medis — dimana semua data ini akan berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah. Sebanyak 17 persen dari perangkat juga memasang pemindai virus. Ini berarti para pengguna yang membeli perangkat bekas mungkin berpotensi mewarisi malware pemilik sebelumnya.

“Pada dasarnya, Anda harus selalu menyimpan data di perangkat pribadi dalam keadaan terenkripsi, untuk berjaga-jaga jika perangkat hilang atau seseorang mendapatkan akses yang tidak sah,” ungkap Marco Preuss, Head of GReAT, Eropa, dalam keterangan tertulis, Jumat (5/2/2021) dikutip dari ANTARA.

“Ketika data pribadi jatuh ke tangan yang salah, hal itu tidak hanya dapat membahayakan diri sendiri, tetapi juga teman dan keluarga atau bahkan perusahaan Anda, tergantung pada jenis informasi apa yang ditemukan,” dia melanjutkan.

Lebih lanjut, Head of GReAT Jerman, Christian Funk, menambahkan kesalahpahaman yang cukup umum adalah dengan hanya menghapus data atau melakukan format ulang media penyimpanan sudah cukup untuk membersihkan data.

“Apabila hanya terdapat segelintir orang yang tech-savvy sekali pun, mereka dapat memulihkan data ini. Itulah mengapa sangat penting untuk melakukan pembersihan total,” ujar Christian.

Untuk memastikan data benar-benar dihapus saat menjual perangkat bekas, ahli Kaspersky merekomendasikan untuk memastikan tempat penyimpanan file disimpan harus ditimpa (overwritten). Penimpaan, yang disebut “penghancuran,” dapat dilakukan oleh program yang dibuat khusus untuknya.

Untuk para penjual, diharap mengeluarkan informasi dari perangkat yang dijual sehingga dapat menjaganya tetap aman dan pribadi. Pertama, dapat dengan mencadangkan data, baik itu di ponsel, komputer, kartu memori, atau bentuk penyimpanan lain, cadangkan dengan aman sebelum menghapusnya dari perangkat yang dijual.

Lepaskan SIM dan kartu penyimpanan dari telepon, hapus eSIM jika perangkat tersebut menggunakannya. Aktifkan autentikasi dua faktor untuk akun apa pun yang mengizinkannya, lalu keluar dari setiap layanan, seperti perbankan, email dan media sosial.

Pada perangkat yang dijual, bergantung pada perangkat terkait, lakukan reset pabrik atau format media. Dalam banyak situasi, data dapat dipulihkan bahkan setelah reset pabrik atau format media. Untuk memastikan tidak ada yang tersisa di perangkat, perlu melakukan langkah tambahan, yang bervariasi tergantung pada jenis perangkat, model, dan konfigurasi.

Untuk pembeli lakukan reset pabrik atau format media penyimpanan. Jika mungkin, dan mengimbangi risiko menghadapi malware yang sudah ada di perangkat, dengan melakukan pemindaian sebelum menggunakannya untuk pertama kalinya.

Perusahaan riset pasar Gartner memperkirakan pertumbuhan 11,4 persen tahun-ke-tahun di pasar ponsel pintar global, dengan 1,5 miliar ponsel diprediksi terjual pada 2021. Penjualan ponsel pintar terpukul dan mengalami penurunan 10,5 persen pada 2020 karena pandemi COVID-19. Namun, pada 2021 diperkirakan akan kembali ke level sebelumnya, karena pasar kembali terbuka, dengan ekspektasi tetinggi dari pasar yang sudah matang.

Dikutip dari ANTARA, laporan tersebut juga memperkirakan bahwa permintaan pengguna untuk smartphone 5G akan meningkat tahun ini, dan akan mewakili 35 persen dari total penjualan smartphone pada 2021. Gartner memprediksi penjualan smartphone pada 2021 akan pulih dengan mencapai pertumbuhan 11 persen dibandingkan dengan penurunan 10,5 persen pada 2020 akibat pandemi COVID-19.

Laporan tersebut mengatakan bahwa pasar ayng matang di Asia Pasifik, Eropa Barat dan Amerika Latin diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan terkuat antara tahun 2020 dan 2021. Jumlah total smartphone yang terjual secara global pada 2019 lebih dari 1,5 miliar (1.540.655.000).

Pada 2020, jumlahnya turun menjadi lebih dari 1,3 miliar (1.378.719.000). Gartner memprediksikan bahwa pada 2021, penjualan akan kembali meningkat menjadi 1,5 miliar (1.535.358.000).

“Pada 2020, pengeluaran konsumen untuk smartphone berkurang tetapi ketersediaan produk baru akan membuat pengguna meningkatkan permintaan yang signifikan pada 2021,” kata direktur riset senior Gartner, Anshul Gupta, dikutip dari laman Gadget 360, Jumat.

Perusahaan riset pasar itu juga mengatakan bahwa ketersediaan jaringan 5G yang terus meningkat, ditambah dengan variasi yang lebih tinggi dari smartphone 5G mulai dari 200 dolar (sekitar Rp2,8 juta), “akan mendoorong permintaan di pasar yang sudah matang dan di China.”

“Kombinasi dari penggantian smartphone yang tertunda dan ketersediaan smartphone 5G kelas bawah siap untuk meningkatkan penjualan smartphone pada 2021,” kata Gupta.

Permintaan smartphone 5G di negara berkembang diprediksi didorong oleh pembeli yang mencari smartphone dengan spesifikasi lebih baik dengan konektivitas 5G sebagai fitur opsional. Gartner memperkirakan total 539 juta unit smartphone 5G akan terjual di seluruh dunia pada 2021, yang mewakili 35 persen dari total penjualan smartphone tahun ini.

“5G kini menjadi fitur standar di smartphone premium, terutama di AS, China, Jepang, dan Korea Selatan. Didorong oleh model berbiaya rendah, adopsi sangat agresif di China, di mana pangsa smartphone 5G sedang dalam kecepatan mencapai 59,5 persen pada tahun 2021,” ujar Gupta.

Tahun 2019 mencatat penjualan 16 juta (16.705.000) smartphone 5G, yang meningkat menjadi 213 juta (213.260.000) unit pada 2020, menurut Gartner.

“Selain itu, smartphone 5G kelas bawah, yang menjadi lebih umum di luar China, siap untuk mendorong lebih banyak momentum. untuk smartphone 5G pada 2021 di semua wilayah,” dia menambahkan.

Di saat pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar 2,07 persen terimbas pandemi virus corona, sektor teknologi, informasi dan komunikasi di Indonesia justru menunjukkan pertumbuhan positif hingga dua digit pada 2020 lalu. Mengutip Badan Pusat Statistik (BPS), sektor TIK tumbuh 10,58 persen secara c-to-c pada 2020 lalu, dibandingkan pertumbuhan pada 2019 sebesar 9,42 persen.

Terminologi c-to-c mengacu pada Produk Domestik Bruto atas harga dasar konstan kumulatif sampai suatu triwulan dibandingkan periode kumulatif yang sama tahun sebelumnya.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melihat pertumbuhan menggembirakan di sektor TIK ini berkaitan erat dengan peran teknologi sebagai enabler untuk mendorong aktivitas di tengah pandemi COVID-19. Hal ini dapat dilihat dari peran signifikan internet dalam memfasilitasi masyarakat agar tetap dapat terkoneksi dalam melakukan aktivitas interaktif secara daring.

“Sektor informasi dan komunikasi muncul sebagai salah satu sektor yang menjadi tulang punggung (backbone) dalam upaya bangsa untuk terus bertahan menghadapi tantangan pandemi COVID-19 sepanjang tahun 2020,” kata Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi, dalam keterangan pers, dikutip Minggu (7/2/2021).

Sektor TIK saat ini merupakan tulang pungung yang menyangga pertumbuhan ekonomi nasional tahun lalu, ketika sektor lain mengalami kontraksi. Sektor TIK memberikan kontribusi positif tertinggi, yaitu 0,57 persen poin bagi total minus 2,07 persen pertumbuhan kumulatif PDB Indonesia tahun 2020.

Sektor TIK mengalami pertumbuhan positif secara year-on-year (y-o-y) sepanjang 2020, yaitu 9,82 persen pada kuartal I, 10,72 persen kuartal II, 10,72 persen kuartal III dan 10,91 persen untuk kuartal IV. Istilah year-on-year mengacu pada PDB atas dasar harga konstan pada suatu triwulan dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Kominfo, pertumbuhan sektor TIK secara konsisten dua digit selama pandemi 2020 menunjukkan bahwa sektor ini mampu memanfaatkan momentum untuk meraih peluang di tengah situasi yang penuh tantangan. Sektor lain yang mengalami pertumbuhan positif pada 2020 adalah jasa kesehatan dan kegiatan sosial, serta sektor jasa keuangan dan asuransi.

“Hal ini menyematkan pesan penting bagi kita semua bahwa produktivitas bangsa dapat terus diraih dalam semangat optimisme dan kekuatan gotong royong,” kata Dedy.

Data menyebutkan jika Indonesia adalah salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia. Tidak tanggung-tanggung, Indonesia menempati posisi keempat dunia sebagai negara dengan populasi netter paling banyak, mencapai hampir 200 juta orang.

Fakta ini terbilang cukup mencengangkan sebab lebih dari 70 persen populasi Indonesia sudah paham tentang dunia maya dan bagaimana cara memanfaatkannya. Pada anjuran New Normal oleh pemerintah pun masyarakat seakan tidak butuh waktu lama untuk bisa melakukan berbagai aktivitas sehari-hari secara online.

Ya, akses internet di Indonesia memang terbilang cukup tinggi. Terlebih dengan banyaknya pengguna smartphone yang memudahkan penggunanya untuk bisa terhubung ke internet kapan pun dan dimana pun. Cukup menyediakan layanan paket data internet, siapa saja dapat dengan mudah menjelajah dunia maya di perangkat tersebut.

Akan tetapi, bagi sebagian orang, paket internet dibanderol dengan harga yang cukup menguras isi dompet. Ditambah dengan semakin meningkatnya kebutuhan internet saat pandemi seperti sekarang ini. Pengeluaran membengkak karena sering membeli paket data internet bukanlah hal yang baru lagi.

Pengeluaran yang terlalu besar tentu dapat menjadi permasalahan serius jika tidak segera dicarikan solusi yang tepat. Oleh karena itu, agar pemakaian kuota internet bisa menjadi lebih hemat, berikut adalah sederet tipsnya yang dibocorkan langsung oleh para ahli IT.

  1. Kurangi Penggunaan Fitur Video

Sudah umum diketahui jika streaming atau mengunduh video memakan kuota internet dalam jumlah yang besar. Sebagai contoh, video dengan durasi 10 menit pada platform Youtube saja bisa berukuran mencapai puluhan hingga ratusan Mb. Dalam kata lain, menonton video dalam kurun waktu 1 jam saja bisa membuat kuota internet langsung seret.

Tidak hanya pada platform Youtube, video di aplikasi konferensi video virtual juga cukup boros kuota. Walau mungkin tidak sebanyak Youtube, tidak butuh waktu lama penggunaan aplikasi video seperti Zoom dan Skype bisa menguras kuota internet Anda hingga kering.

Solusi utama untuk mengatasi masalah ini adalah dengan mengurangi intensitas penggunaannya. Jika tidak mungkin dilakukan, Anda bisa mengurangi resolusi video agar tidak terlalu deras menyedot kuota internet. Dengan begitu, kuota bisa lebih lama bertahan meski digunakan untuk streaming video atau meeting online secara kontinyu.

Atau sebagai alternatif, berbagai provider internet di Indonesia sudah menyediakan paket khusus streaming yang bisa Anda beli supaya tidak membebani kuota utama ketika digunakan. Contohnya paket internet Indosat Freedom U atau Paket internet FreedomMax dari Telkomsel.

  1. Segera Tutup Konferensi Video Virtual saat Tidak Digunakan

Masih berkaitan dengan tips sebelumnya, usahakan untuk segera menutup konferensi atau meeting online saat sedang jeda atau selesai dilakukan. Tujuannya agar bandwidth bisa menjadi lebih hemat.

Secara singkat, yang dimaksud dengan bandwidth adalah jumlah konsumsi atau transfer data yang terhitung setiap detik. Istilah umum dari bandwidth adalah nilai bit per second atau bps, dari server ke klien dalam kurun waktu tertentu.

Jika arus bandwidth tersebut bisa segera diputus atau dihentikan, kuota internet tentu juga tidak akan berkurang. Jadi, segera tutup aplikasi yang digunakan untuk meeting online agar penggunaan kuota bisa menjadi lebih irit.

  1. Pilih Aplikasi Konferensi Video Hemat Bandwidth

Ada banyak pilihan aplikasi konferensi video yang bisa digunakan untuk meeting online. Beberapa di antaranya tentu memiliki keunggulan berupa pemakaian bandwidth yang lebih optimal dan tidak berisiko membuat kuota internet bocor. Salah satu rekomendasi aplikasi konferensi video mampu menghemat pemakaian kuota adalah Zoom.

  1. Andalkan Koneksi Wi-Fi Unlimited Semaksimal Mungkin

Dewasa ini, tentu tidak sulit untuk bisa menemukan koneksi internet Wi-Fi. Di banyak tempat umum, seperti tempat makan, kafe, hingga stasiun dan ruang publik lainnya pasti sudah difasilitasi dengan koneksi Wi-Fi. Nah, saat sedang berada di tempat-tempat tersebut, jangan ragu memanfaatkannya untuk mendownload video, aplikasi, ataupun mengupdate aplikasi.

Intinya, maksimalkan pemakaian internet saat terhubung ke jaringan tersebut. Dengan begitu, Anda tidak lagi memakai kuota internet untuk hal-hal tersebut, dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain yang lebih penting.

  1. Aktifkan Fitur Data Saver

Zaman sekarang, teknologi smartphone sudah semakin canggih dan memiliki beragam fitur ampuh yang berguna bagi penggunanya. Salah satu yang layak untuk dilirik adalah fitur data saver atau penghemat data yang pasti sudah tersemat di hampir semua smartphone keluaran terbaru.

Sesuai namanya, fitur ini mampu menghemat pemakaian kuota internet pada smartphone. Untuk mengaktifkannya, Anda bisa menuju ke menu Setting, pilih Mobile Data, dan aktifkan fitur Data Saver ini.

Beberapa aplikasi pun juga memiliki fitur serupa, sebagai contoh Twitter. Dengan mengaktifkan fitur data saver di aplikasi Twitter, video di Timeline tidak akan diunduh secara otomatis, dan gambar ditunjukkan dengan kualitas yang lebih rendah. Jadi, tidak ada lagi masalah kuota habis sebelum berakhir masa aktif paket data internet.

Maksimalkan Promosi dan Diskon Paket Data Internet agar Lebih Hemat

Sederet tips di atas memang berguna untuk menghemat pemakaian kuota internet yang bisa saja bocor tanpa disadari. Namun, kadangkala, nasi sudah menjadi bubur dan kuota internet sudah terlanjur menipis. Nah, saat hal ini terjadi, jangan ragu untuk membeli paket data internet saat ada promosi ataupun diskon harga agar pengeluaran tidak lagi bikin keuangan terganggu.

Tahun 2021 menjadi tahun yang berbeda dari sebelumnya, di mana banyak orang harus mengubah cara berkomunikasi yang mendorong meningkatnya dan mempercepat adopsi teknologi, termasuk teknologi komputasi awan atau cloud computing.

“Kita mengandalkan berbagai perangkat dan konten untuk tinggal di rumah, dan untuk tetap terhubung dengan orang-orang. Tahun 2020 mengawali hubungan dengan dunia digital, yang akan menjadi landasan untuk 2021,” ujar Head Solutions Architecture ASEAN Amazon Web Services, Paul Chen, dalam konferensi virtual, Senin.

Selain cloud, adopsi Machine Learning juga diprediksi tumbuh pada 2021. Paul melihat adanya ledakan data saat ini. Untuk memberi konteks tren, misalnya dalam satu jam saat ini dapat menghasilkan lebih banyak data dibandingkan pada 2000.

“Data yang dibuat selama tiga tahun ke depan ini, akan melebihi apa yang sebelumnya dibuat selama 30 tahun terakhir,” Paul memberikan contoh lain.

Saat ini, menurut Paul, para ilmuwan menggunakan data yang besar untuk mengembangkan vaksin, misalnya, atau pun perusahaan farmasi dan lembaga kesehatan, yang menangani pandemi, sehingga membutuhkan teknologi pemrosesan data.

“Kita akan melihat tahun mendatang sebagai percepatan adopsi Machine Learning di seluruh industri dan pemerintah, mulai dari industri bidang perawatan kesehatan, perbankan, dan juga bidang manufaktur,” kata Paul

Machine Learning pada bidang manufaktur, khususnya, yang disematkan pada jalur produksi, mampu menemukan anomali produksi secara real time. Selanjutnya, pada 2021, foto, video dan audio akan “berbicara lebih banyak dibanding kata-kata.”

Artinya, lebih banyak digunakan menjadi solusi. Misalnya, penggunaan komputasi yang diaktifkan suara, dan peningkatan antarmuka pengguna memungkinkan manusia untuk berkomunikasi dengan mesin secara lebih natural.

“Saat memasuki tahun 2021 dan seterusnya, kami memperkirakan fase seperti penghentian keyboard akan terus berlanjut naik sebagai tren,” kata Paul, yang diperkirakan akan berpindah pada penggunaan Alexa misalnya, dalam berbagai aktivitas, salah satunya berbelanja.

Prediksi berlanjut bahwa pembelajaran jarak jauh tetap akan dilakukan, mengingat pandemi belum segera berakhir. Usaha kecil juga akan menggunakan cloud yang membuat Asia Tenggara dan Afrika menjadi pemimpin dalam hal ini.

“Pada 2020 dan seterusnya, kita akan melihat perubahan besar-besaran ini di semua bisnis, mulai menggunakan teknologi cloud canggih untuk menjangkau pelanggan. Dan kita akan melihat ledakan teknologi tingkat tinggi,” ujar Paul.

Teknologi Quantum Computing juga diprediksi mulai muncul pada tahun ini. Jika teknologi quantum computing sebelumnya membutuhkan banyak investasi dan pendanaan untuk diadopsi, teknologi tersebut saat ini lebih terjangkau untuk kemudian dilakukan eksplorasi.

“Kita akan melihat lebih banyak quantum computing yang mengubah area seperti ilmu teknik kimia, portofolio pembiayaan penemuan obat dengan pengoptimalan machine learning, dan banyak lagi,” Paul menambahkan.