Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah merchant yang menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) mencapai 6,55 juta per 19 Maret 2021. Volume transaksi QRIS tumbuh pesat yaitu 15 juta transaksi.

“Pertumbuhan hampir 50 persen dan nominalnya tumbuh 80 persen mencapai Rp1,11 triliun didukung 6,5 juta merchant menggunakan QRIS,” kata Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Fitria Irmi Triswati, dalam acara Pelatihan Wartawan Ekonomi Nasional di Jakarta, Jumat (26/3/2021) dikutip dari ANTARA.

Fitria merinci 6,55 juta merchant pengguna QRIS meliputi 324 ribu usaha berskala besar, 614 ribu usaha berskala menengah, 1,58 juta usaha berskala kecil, dan 4 juta usaha berskala mikro. Ia mengatakan sistem pembayaran melalui QRIS ini telah diterapkan oleh 85 persen pelaku UMKM, tersedia di 34 provinsi dan 480 kabupaten atau kota, serta melibatkan 57 penyelenggara jasa sistem pembayaran (PJSP).

Sementara itu, Fitria menyatakan pihaknya menargetkan akan ada 12 juta merchant yang sistem pembayarannya terakselerasi secara digital yakni menggunakan QRIS pada 2021.

“Transformasi digital merupakan suatu keharusan sesuai arahan Presiden dan Gubernur BI sehingga ada kampanye QRIS menuju 12 juta merchant pada 2021,” ujarnya.

Menurutnya, kampanye menggunakan QRIS merupakan langkah BI dalam berupaya membawa 91,3 juta penduduk unbanked dan 62,9 juta UMKM ke dalam ekonomi maupun keuangan formal melalui digitalisasi pada 2025.

“Kami selalu merujuk pada visi sistem pembayaran 2025 yang sudah kami luncurkan blue print-nya pada 2019,” tegasnya.

Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berasal dari kalangan wanita bertambah banyak di e-commerce di tengah berlangsungnya pandemi COVID-19 yang sudah berlangsung selama satu tahun terakhir di Indonesia.

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh LPEM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) bersama Tokopedia bertajuk “Bertahan, Bangkit, dan Tumbuhnya UMKM di tengah Pandemi melalui Adopsi Digital” terdapat 18,6 persen pelaku UMKM wanita yang baru memulai bisnis di masa pandemi COVID-19.

“Tokopedia memberikan kesempatan bagi masyarakat secara luas khususnya bagi perempuan untuk memulai bisnis mereka. Persentase perempuan memulai usaha 5,4 poin lebih tinggi dibanding dengan pelaku usaha laki-laki yang berjumlah 13,2 persen,” kata Kepala LPEM FEB UI Riatu Mariatul Qibthiyyah dalam konferensi virtual, Rabu (24/3/2021), dikutip dari ANTARA.

Salah satu contoh pelaku UMKM wanita yang bertahan di tengah pandemi karena berjualan di platform belanja daring adalah Ni Kadek Eka Citrawati yang merupakan pemilik bisnis produk perawatan tubuh Bali Alus yang berlokasi di Bali. Seperti diketahui, Bali merupakan salah satu kota yang ekonominya paling merosot akibat COVID-19.

Eka Citrawati menceritakan berkat adanya penjualan daring, dirinya dapat tetap bertahan di tengah pandemi COVID-19 karena 80 persen penjualannya berasal dari e-commerce. Ia pun menceritakan dengan penjualan daring itu dirinya dapat membuka peluang kerja bagi masyarakat di sekitarnya.

“Di Bali Alus untuk pengemasan dan juga produksi kami memberdayakan ibu-ibu atau wanita yang berada di sekitar kami. Selain itu karena kami berbahan dasar hasil alam, kami juga membantu petani dengan membeli hasil tanamannya. Ini membantu perekonomian keluarga-keluarga yang ada di Bali,” kata Eka.

Pemanfaat teknologi digital yang dilakukan oleh Eka juga diharapkan dapat diadopsi oleh pelaku UMKM di Indonesia yang belum mencoba platform daring. Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi pun menyampaikan kreativitas para pelaku UMKM sangat membantu Indonesia untuk pulih dan ia mengharapkan agar para pelaku UMKM tidak berhenti beradaptasi melalui penciptaan inovasi dari kreativitas.

“Hampir seluruh bisnis mengalami penurunan meski begitu resesi yang terjadi tidak hanya membawa kerugian, pandemi COVID-19 tidak menghalangi kreativitas para pengusaha Indonesia untuk mencari solusi. Saya tahu tidak sedikit pengusaha yang mengubah model bisnisnya, meski begitu, pandemi menumbuhkan pelaku usaha kreatif baru yang membuka peluang beberapa jenis lapangan pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Kuncinya pelaku usaha harus bisa beradaptasi dengan kondisi dan be creative,” kata Luthfi.

Inklusi keuangan digital baik oleh pelaku usaha maupun konsumen meningkat selama pandemi COVID-19 lewat transaksi bisnis yang dilakukan melalui e-commerce, sebagaimana disebutkan oleh Kepala LPEM FEB UI Riatu Mariatul Qibthiyyah.

Hal tersebut dikatakan oleh Riatu berdasarkan hasil riset yang dilakukan LPEM FEB UI bersama Tokopedia. Dalam paparan riset bertajuk “Bertahan, Bangkit, dan Tumbuhnya UMKM di tengah Pandemi melalui Adopsi Digital”, disebutkan bahwa inklusi keuangan terlihat dari metode pembayaran masyarakat dalam bertransaksi.

“Kemudahan itu dilihat dari bagaimana metode pembayaran yang dipilih konsumen untuk melakukan pembayaran selama pandemi. Sebagian besar yaitu sebanyak 46 persen menggunakan e-wallet dan juga Virtual Account,” kata Riatu dalam konferensi pers virtual, Rabu (24/3/2021), dikutip dari ANTARA.

Dalam paparan riset yang dilakukan kepada pengguna platform Tokopedia itu didapatkan juga bahwa baik pengguna baru dan juga pengguna lama selama pandemi COVID-19 paling banyak mendaftarkan pembayaran dengan metode e-wallet dan juga mobile banking dalam aplikasinya. Dengan urutan persentase untuk pengguna baru yang mendaftarkan e-wallet sebesar 44,3 persen sementara untuk pengguna lama sebesar 40,8 persen.

Sedangkan untuk urutan persentase pengguna baru yang mendaftarkan metode pembayaran lewat mobile ataupun internet banking mencapai 31,1 persen dan untuk pengguna lama sebesar 41,6 persen. Riatu mengungkapkan, dari hasil itu dapat dilihat bahwa platform belanja online memudahkan akses produk keuangan, khususnya keuangan digital.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki juga turut mengapresiasi dorongan transformasi digital yang dilakukan Tokopedia untuk mendorong UMKM berjualan secara daring dan memperluas pasarnya di tengah pandemi COVID-19. Ia berharap kolaborasi untuk menyukseskan percepatan transformasi digital di Indonesia dapat dilakukan bersama dengan Tokopedia.

“Saya berharap melalui kesempatan baik ini, kita bersama dapat menghadirkan potensi- potensi kolaborasi khususnya dalam bentuk program yang berorientasi pada pemulihan pengembangan dan penguatan UMKM di Tanah Air. Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Tokopedia karena selalu membantu para pelaku UMKM Tanah Air khususnya dalam upaya mengakselerasi digitalisasi usaha UMKM yang merupakan tulang punggung ekonomi nasional,” kata Teten.

Pandemi COVID-19 yang melanda dunia termasuk Indonesia, telah memaksa perubahan di beberapa sektor perekonomian. Salah satunya di sektor usaha mikro kecil menengah atau UMKM. Menurut hasil survei yang digelar oleh Paper.id, SMESCO, dan OK OCE kreativitas UMKM di Indonesia justru terpacu setelah terdampak pandemi COVID-19.

Sebagai penggerak ekonomi negara serta penyerap tenaga kerja, UMKM sebenarnya mengalami kerugian yang besar karena kegiatan usaha mereka tersendat dan mengalami penurunan pemasukan yang drastis. Namun sektor UMKM juga menunjukkan upaya untuk bangkit kembali.

Survei bertajuk “Dampak Pandemi COVID-19 terhadap UMKM” ini dilakukan secara daring dan dikirimkan kepada lebih dari 3000 UMKM yang ada di 22 provinsi Indonesia. Survei ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai gambaran terkini akan dampak pandemi yang dialami UMKM. Dengan begitu, para pelaku UMKM dapat merencanakan langkah mitigasi untuk meminimalisir dampak yang terjadi.

Hasil survei menunjukkan penurunan omzet UMKM berdampak pada operasional dan finansial. Sebanyak 78 persen responden mengaku mengalami penurunan omzet dan kategori terbesar mengalami penurunan lebih dari 20 persen (67,50 persen). Penurunan terjadi hampir menimpa seluruh bidang usaha, dengan 3 jenis usaha yang mengalami dampak paling besar ialah kuliner (43,09 persen), jasa (26,02 persen), dan fashion (13,01 persen).

Meski mayoritas responden melakukan pemasaran secara online dan offline (63,4 persen), hal ini tetap tidak dapat memperbaiki kegiatan usaha yang ada. Pasalnya efek pandemi yang menyeluruh dan mengakibatkan menurunnya daya beli konsumen. Dampak penurunan omzet ini diikuti oleh terhambatnya kegiatan operasional dan finansial usaha. Sebanyak 65 persen responden mengalami masalah pada kegiatan usaha, seperti usaha harus tutup sementara, kesulitan adaptasi WFH, serta 24 persen mengalami masalah operasional bersumber dari pelanggan seperti menurunnya daya beli konsumen.

Survei juga menunjukkan responden mengalami masalah finansial. Sebanyak 68% responden mengalami masalah keuangan internal, seperti kenaikan biaya operasional untuk protokol kesehatan (masker dan hand sanitizer), dan harus menggunakan modal kerja pribadi. Sementara itu, 26 persen responden mengaku kesulitan dalam mengajukan pinjaman ke bank.

Walau begitu, masalah pandemi COVID-19 tidak menghalangi kreativitas para pelaku usaha untuk mencari solusi agar usaha tetap dapat berjalan. Berdasarkan hasil data yang ada, mayoritas responden memilih untuk mencari pasar baru (23,93 persen). Sementara itu, 13,44 persen responden memilih untuk melakukan pivot bisnis atau menjual produk baru.

CEO dan Co-Founder Paper.id, Jeremy Limman mengatakan pandemi ini memberikan dampak kepada ekosistem bisnis di dunia. Meski demikian, diharapkan pandemi akan mendorong kreativitas para pelaku usaha untuk membuat inovasi yang baru. Contohnya seperti krisis finansial di tahun 2008 yang akhirnya memunculkan fintech. Karena itu, pandemi sebenarnya menyajikan peluang melahirkan banyak tren bisnis baru, asalkan para pelaku usaha mau beradaptasi dengan keadaan dunia yang baru.

Dari beberapa wawancara yang telah dilakukan, responden mengaku menjual barang-barang yang sedang laku di pasaran seperti masker atau produk kesehatan. Sebanyak 8,52 persen responden juga mengatakan bahwa, mereka memutuskan untuk melakukan ekspansi bisnis.

Terkait tingkat optimisme pelaku usaha dalam menghadapi pandemi, temuan dari survei memperlihatkan opini yang terbagi dua. Bagian pertama, dengan tingkat optimisme di bawah satu tahun sebanyak 67,32 persen dan di atas satu tahun dengan 32,68 persen. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah langkah pemulihan yang perlu dilakukan pelaku UMKM agar usaha kembali normal.

Metode inkubasi dan pembentukan ekosistem yang mendukung harus dikedepankan demi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dapat naik kelas. Metode inkubasi adalah metode yang digunakan untuk mendorong UMKM lebih berdaya saing dengan fokus mendorong pertumbuhan (usaha) kecil dan menengah. Cara kerjanya adalah melalui pendanaan-pendanaan produktif dan pendampingan UMKM.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki mengatakan proses inkubasi bisa mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Kehadiran wirausahawan baru menjadi penting karena saat ini jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga.

Menurut Teten, saat ini rasio wirausaha dibanding jumlah warga Indonesia sebesar 3 persen. Padahal, untuk masuk kategori maju, persentase wirausaha di sebuah negara harus mencapai minimal 4 persen. Karena itu, saat ini pemerintah sudah mulai mengintensifkan dukungan agar semakin banyak wirausaha baru yang muncul di seluruh pelosok negeri.

“Anak-anak muda tidak boleh kesulitan mengembangkan idenya untuk masuk ke tahap industri dan komersialisasi. Berhubung mekanisme ekspor banyak persyaratan yang tidak mungkin dipenuhi usaha mikro, maka saya kira kemitraan harus dilakukan,” kata Teten melalui siaran pers.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Bambang Brodjonegoro mengungkapkan ada dua unsur yang penting dalam membentuk ekosistem UMKM berkelanjutan. Caranya adalah dengan pembiayaan dan teknologi. Adopsi teknologi memegang peran penting agar pelaku usaha kecil memiliki akses pasar yang lebih luas, dan daya saing.

“Teknologi kalau diterapkan dalam bisnis, terutama UMKM, maka UMKM bisa pakai teknologi yang low cost, mudah dan sesuai bisnis lokal. UMKM butuh eksposur terhadap digitalisasi,” kata Bambang.

Menurut Bambang, digitalisasi bukan untuk gagah-gagahan, tetapi ini sebagai esensi bisnis paling dasar, yaitu market access. Hal ini tidak bisa sekadar tatap muka atau berjualan langsung, tapi harus masuk digital.

Data dari Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI), organisasi yang ditugasi pemerintah mengelola nama domain internet Indonesia, melaporkan bahwa hingga 25 Februari 2021 pengguna nama domain .id sudah mencapai 500.000. Pandi menyebutkan dari 13 nama domain yang dikelola, registrasi terbanyak adalah .id dengan 193.280, diikuti .co.id sebanyak 190.943, dan .my.id 99.855 domain.

Deputi Bidang Pengembangan Bisnis, Marketing dan Kerjasama PANDI, Gunawan Tyas Jatmiko mengatakan untuk mencapai angka setengah juta pengguna itu tidak lah mudah, perlu strategi pemasaran yang tepat untuk mendorongnya.

“Ada tujuh poin inti yang menjadi kunci keberhasilan sejauh ini, di antaranya adalah memudahkan syarat pendaftaran untuk nama domain .id dan .my.id, lalu memperluas channel pemasaran di dalam dan luar negeri,” katanya, dikutip dari ANTARA, Selasa (23/3/2021).

PANDI juga menurunkan harga nama domain .my.id, menjadi nama domain paling murah di Indonesia yang memberikan dampak paling signifikan terhadap pertumbuhan nama domain .id secara keseluruhan. PANDI juga memberlakukan batas harga terendah atau harga eceran tertinggi (HET) untuk menghindari perang harga sekaligus memberikan margin harga jual yang menarik.

Gunawan menyebutkan bahwa saat ini PANDI gencar berkolaborasi dengan mitra penjualan untuk melakukan kegiatan daring dan luring untuk meluaskan brand awareness nama domain .id.

“Berkolaborasi dengan komunitas di luar IT untuk memperkenalkan nama domain .id sehingga persebarannya lebih luas. Dan kami mempunyai program Merajut Indonesia Melalui Digitalisasi Aksara Nusantara (MIMDAN) yang menjadikan PANDI dan .id-nya dikenal luas di kalangan masyarakat luas dan seluruh stakeholder yang terlibat.”

Bahkan, lanjutnya, lembaga kebudayaan dunia, UNESCO, juga ikut mempromosikan ke ranah internasional sehingga bisa menaikkan citra positif, karena kegiatan ini merupakan langkah mulia untuk membuat aksara nusantara tetap eksis di era digital dan tidak punah.

Peningkatan jumlah domain .id yang mengalami tren sangat positif di tahun 2020, juga menarik perhatian pengelola nama domain tingkat Asia Pasifik (APTLD) lantaran tumbuh signifikan, sekitar 40 persen. Hal ini memaksa APTLD bertanya kepada PANDI strategi apa yang kami pakai hingga kenaikannya sampai begitu tinggi.

Menurut PANDI, saat ini kompetitor Indonesia yang menjadi pesaing berat adalah Vietnam (.vn), untuk .vn yang saat ini masih menduduki posisi puncak sebagai jawara di ASEAN. Gunawan menambahkan, dari statistik yang ada, domain .id menargetkan tahun ini bisa menyalip Vietnam, dan menjadi juara di ASEAN dengan mengalahkan .vn.

Baru sekitar 12 juta UMKM atau sebanyak 19 persen dari total populasi UMKM di Indonesia yang hadir dalam platform digital, menurut catatan hingga awal 2021 ini. Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengakui masih ada beberapa kendala dalam meningkatkan literasi digital di UMKM.

“Aspek ini meliputi kemampuan UMKM untuk melek digital, seperti mengoperasikan perangkat, aplikasi, platform digital, yang tentu saja berimbas pada efektivitas dalam pemanfaatan teknologi digital,” ungkap Teten di Jakarta, dikutip dari IDX Channel, Selasa (23/3/2021).

Terkait tingkat literasi digital yang masih relatif rendah secara rata-rata, Teten menilai isu fundamental lain juga tetap menjadi catatan. Seperti kapasitas usaha (berproduksi dalam skala besar dan ekonomis) dan kualitas produk (kualitas produk agar bisa bersaing dengan produk usaha besar di marketplace).

“Artinya, adaptasi teknologi oleh pelaku UMKM, baik dengan hadirnya pandemi maupun tidak, adalah sebuah keniscayaan,” kata Teten.

Teten juga menekankan bahwa pemerintahan pun harus bertransformasi digital untuk dapat memastikan tetap relevan dengan perkembangan zaman yang semakin dinamis. Termasuk di dalamnya terkait aspek pengadaan barang dan jasa bagi pemerintah dan BUMN.

“Saat ini, partisipasi pelaku usaha kecil dalam pengadaan pemerintah secara elektronik mencapai 41 persen atau 166.393 unit, dengan potensi mencapai lebih dari Rp320 triliun,” jelasnya.

Pemerintah berusaha untuk mendorong peran UMKM. Salah satunya melalui Perpres Nomor 12 Tahun 2021 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah telah membuka peluang bagi UMKM dan koperasi untuk mengikuti pengadaan pemerintah hingga Rp15 miliar atau naik 6 kali lipat dari pagu nilai pengadaan sebelumnya.

Menjadi seorang pebisnis di era digital ini memiliki beberapa keunggulannya tersendiri. Di sisi lain, era digital juga menghadirkan sejumlah tantangan. Untuk itu, perlu strategi yang jitu supaya bisa meraih sukses dalam menjalani bisnis E-commerce.

Co-Founder Alona & Dropshipaja.com, Rico Huang membagikan tips yang bisa dimanfaatkan para pebisnis. Berbekal pengalamannya membangun bisnis di usia 25 tahun, Rico menyebut setidaknya ada lima kesalahan yang harus dihindari saat berbisnis. Dikutip dari ANTARA, berikut pembahasannya.

Pola Pikir yang Kurang Tepat

Merasa tahu segalanya dan segan menerima masukan dari orang lain adalah salah satu kesalahan umum para pebisnis baru. Terkadang orang lain bisa melihat hal penting yang mungkin terlewat oleh kita, padahal hal itu mungkin signifikan untuk pertumbuhan bisnis.

Dengan demikian, masukan positif dari orang lain, terutama sesama penjual seharusnya bisa didengarkan. Menerima masukan, bahkan kritik membangun dari orang-orang terdekat, dapat membantu bisnis untuk berkembang.

Tidak Bergabung dengan Komunitas

Banyak juga pebisnis yang tidak meluangkan waktu cukup untuk bergabung dengan komunitas dan memperluas jaringan. Biasanya mereka terlalu sibuk mengurus operasional bisnis atau karena memang memiliki sikap introvert atau malu ketika berinteraksi dengan orang lain.

Padahal dalam bisnis e-commerce, komunitas penjual haruslah dimanfaatkan dengan maksimal. Selain mendapatkan ilmu, bergaul di komunitas sesama penjual juga akan memperluas jaringan, termasuk membuka kesempatan bisnis lebih lebar.

Menjadi yang Termurah

Menjadi yang termurah atau yang berbeda menjadi perdebatan klasik di antara kompetitor yang seolah-olah takkan pernah habis. Padahal, sebenarnya tidak masalah bisnis menjadi yang termurah atau menjadi yang berbeda, asalkan terus mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan tersebut.

Kelebihan menjadi yang termurah adalah di value dan omset yang tinggi serta biaya pemasaran yang rendah. Kekurangnnya, nilai margin tipis sehingga terbatas untuk membangun sistem operasional yang baik.

Semetara untuk menjadi yang berbeda, kelebihannya adalah kita memiliki produk yang unik dan berbeda dari kompetitor. Termasuk diantaranya promo bundling yang banyak dilakukan dalam kampanye-kampanye e-commerce guna menarik konsumen.

Konsekuensinya adalah biaya pemasaran dan waktu riset produk menjadi lebih tinggi karena perlu membangun brand awareness terlebih dahulu. Untuk itu pelaku bisnis perlu mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan masing-masing pilihan sehingga dapat menentukan strategi yang memang sesuai dengan tujuan akhir bisnis.

Menyerah Sebelum Mencoba

Gagal sekali bukan berarti akhir dari dunia. Jika belum apa-apa sudah menyerah, bagaimana kita bisa meraih sukses? Langkah-langkah yang kerap digunakan untuk mengevaluasi langkah bisnisnya yaitu Test (misalnya aktif beriklan di media sosial), Operate (beroperasi sesuai hasil iklan), Test (melakukan riset kembali dan merevisi keyword bila diperlukan), Exit (evaluasi dan belajar hal baru).

Pebisnis perlu terus mengevaluasi bisnis hingga bisa menemukan formula yang paling pas untuk bisnismu karena berjualan daring harus serius. Tidak cukup sekadar memajang produk di e-commerce dan menunggu keuntungan datang.

Bergantung pada Diri Sendiri

Ketika memulai bisnis, biasanya semua hal masih bisa dikerjakan sendiri. Seperti marketing, administrasi, desain konten, foto produk, hingga pengemasan dan pengiriman barang. Namun, setelah bisnis mulai berkembang, seorang pebisnis harus mampu mendelegasikan tugas-tugas kepada orang lain, sehingga mampu fokus memikirkan strategi pengembangan bisnis.

Seorang pebisnis yang baik tidak hanya bergantung pada dirinya sendiri, melainkan perlu mengandalkan anggota timnya agar bisnis dapat berjalan dengan optimal. Semakin besar bisnis, semakin banyak bantuan yang dibutuhkan pebisnis sehingga dirinya tidak terjerat pada rutinitas operasional semata.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) menyatakan Security Crowdfunding (SCF) menjadi layanan urun dana sebagai salah satu alternatif pembiayaan untuk membantu usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Indonesia, termasuk di Sulteng. Setidaknya ada lima keunggulan dari SCF ini.

Hal ini disampaikan Pelaksana Harian (Plh) Kepala OJK Sulteng Amirudin Muhidu, di Kota Palu, Sabtu (20/3/2021) dikutip dari ANTARA. Menurutnya, SCF memiliki keunggulan alternatif pembiayaan bagi pelaku UMKM di Provinsi Sulteng, terutama di masa pandemi COVID-19 saat ini.

Keunggulan pertama, proses penerbitan efek lebih mudah. Pasalnya, konsep penawaran efek melalui SCF dikecualikan dari kewajiban untuk menyampaikan pernyataan pendaftaran sepanjang memenuhi tiga persyaratan. Adapun tiga persyaratan itu ialah penawaran efek dilakukan melalui penyelenggara yang telah memperoleh izin dari OJK., penawaran efek dilakukan dalam kurun waktu 12 bulan, dan total dana yang dihimpun paling banyak Rp10 miliar.

Keunggulan kedua, badan usaha tidak terbatas pada Perseroan Terbatas (PT), baik badan usaha Indonesia berupa badan hukum maupun non badan hukum. Badan usaha berbadan hukum misalnya PT dan koperasi serta badan usaha lainnya, seperti Perseroan Komanditer (CV), firma, dan persekutuan perdata.

Kehadiran SCF menjadi insentif bagi UMKM yang mayoritas berbadan hukum non PT, sehingga metode ini diharapkan bisa menggaet banyak UMKM untuk memenuhi kebutuhan pendanaanannya.

Sementara keunggulan ketiga dari SCF, efek tidak terbatas pada saham. SCF mencakup juga penerbitan Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS), dengan syarat antara lain memiliki underlying asset, tidak dapat diperdagangkan, dan memiliki jatuh tempo tidak lebih dari dua tahun.

Hal ini menjadi peluang bagi UMKM industri halal yang dapat menerbitkan efek syariah berupa sukuk, guna memastikan sukuk yang diterbitkan tidak bertentangan dengan prinsip syariah di pasar modal.

Keunggulan berikutnya, penghimpunan dana melalui SCF dapat dilakukan bertahap. SCF memungkinkan pihak penerbit untuk melakukan penawaran bertahap dengan skema penerbitan EBUS dengan syarat batasan penggalangan dana tetap Rp10 miliar per tahun.

Adapun yang menjadi keunggulan terakhir dan yang terpenting, SCF diatur dan diawasi oleh OJK. Baik dalam hal kelembagaan, perizinan, dan kewajiban penyelenggara termasuk kewajiban, persyaratan, dan laporan penerbit semuana diawasi OJK.

Untuk itu OJK berharap pihak penyelenggara maupun penerbit dapat saling bersinergi dalam memitigasi risiko. Caranya dengan menerapkan tata kelola yang baik, serta memastikan aspek perlindungan konsumen.

Pandemi virus corona secara langsung dan tidak langsung mengubah kebiasaan belanja masyarakat. Jika dulu masyarakat cenderung belanja dengan metode konvensional, kini masyarakat mulai beralih berbelanja ke platform daring. Hal ini membuka peluang untuk berwirausaha memanfaatkan teknologi digital.

Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama Siberkreasi dan Dharma Wanita Persatuan Kominfo mengadakan webinar “Ayo Jualan Online”. Webinar ini ditujukan untuk literasi digital yang bisa diaplikasikan pada usaha online yang sedang dijalankan.

Manajer Pemasaran Produk Google Indonesia, Dora Songco, menyebut kesadaran digital menjadi hal yang paling penting untuk membangun bisnis secara online. Untuk itu para pelaku usaha harus memahami secara mendalam manfaat platform digital untuk meningkatkan bisnis masing-masing.

“Pahami juga karakter pelanggan online saat ini, akses apa yang mereka gunakan untuk belanja online,” kata Dora, dalam keterangan pers bersama Siberkreasi, dikutip dari ANTARA.

Ditambahkannya, ada tiga tahap yang harus diperhatikan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) saat membuka bisnis online. Pertama, pelaku usaha bisa mengenal dan menemukan pelanggan baru dengan memanfaatkan perangkat yang tersedia di platform jualan online.

Kedua, platform jualan online bisa membantu meningkatkan efektivitas kinerja pada bisnis, bukan mempersulit kinerja. Ketiga, pelaku usaha harus mencari tahu trend terbaru, yang sedang diminati pasar, supaya bisa membantu bisnis berkembang.

Pendiri marketplace Ladara, Nanny Hadi Tjahjanto, berpendapat resep utama untuk memulai bisnis, baik secara online maupun offline adalah kemauan yang kuat dan inovasi. Perniagaan online diharapkan bisa membantu UMKM di Indonesia untuk bertahan di tengah kondisi perekonomian yang terdampak pandemi virus corona.

Untuk memenangkan persaingan bisnis di era digital, penjual harus menarik perhatian dalam segi produk maupun dari hal pemasaran produk tersebut, serta membangun komunitas komunitas.