Transformasi game dari satu era ke era berikutnya diikuti pula dengan pola konsumsi para gamers. Jika sebelumnya suatu permainan video game identik dengan konsol dan gamenya, maka selama dua dekade terakhir mulai muncul pula layanan video game berlangganan (subscription) seperti PlayStation Plus, PlayStation Now, Nintendo Switch Online, Xbox Game Pass Ultimate hingga Stadia Pro.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Perusahaan konsultan marketing Simon-Kucher & Partners, dikutip dari Game Industry, sebanyak 35 persen gamers di seluruh dunia kini sudah mengikuti layanan game berlangganan. Survei berjudul “The Global Gaming Study: The Future of Subscriptions” ini berusaha menangkap pola gamer beradaptasi ke realitas gaming baru ini. Sebanyak 13.000 responden dari 17 negara disurvei pada periode Mei dan Juni dengan bantuan firma riset pasar Dynata.

Lebih dari sepertiga gamer, tepatnya 35 persen aktif berlangganan layanan gaming dimana para gamer justru bersedia berlangganan lebih dari satu layanan. Hasil survei menunjukkan 35 persen dari semua gamer mengikuti sebuah layanan berlangganan secara aktif, walau distribusinya tidak merata di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, hanya 20 persen yang aktif berlangganan, sedangkan gamer di India dan Indonesia justru dua kali lipat lebih mungkin berlangganan.

80 persen responden yang sudah mendaftar untuk satu layanan berlangganan mengatakan bahwa mereka sudah berlangganan di beberapa layanan (9 persen) atau tertarik untuk memiliki beberapa langganan lainnya (71 persen). Survei tersebut mengidentifikasi ruang untuk pertumbuhan layanan game berlangganan, tidak hanya di antara gamer yang belum mendaftar, tetapi di antara mereka yang sudah membayar layanan.

Mengenai alasan mengapa gamers mau mengikuti layanan berlangganan, mayoritas menjawab kualitas game yang ditawarkan menjadi faktor terpenting untuk dipertimbangkan. Tiga alasan berikutnya untuk berlangganan adalah harga, jumlah game dan keragaman game. Satu hal lainnya yang layak dipertimbkan adalah prioritas para gamers berbeda-beda, bergantung pada berapa lama waktu bermain para responden setiap minggunya.

Sementara itu, untuk mereka yang mengaku tidak berlangganan, alasan utama mereka tidak berlangganan ialah karena harga. Hal ini menjadi alasan utama para gamers baik itu yang memiliki waktu bermain kurang dari 5 jam per pekan (casual gamers), 6-20 jam per pekan (moderate gamers) hingga lebih dari 20 jam per pekan (serious gamers).

Adapun faktor lainnya adalah keinginan untuk membeli game daripada menyewa melalui akses berlangganan, hingga akses internet dan pembayaran yang terbatas.