Munculnya pandemi yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, secara tidak langsung ikut mengubah tatanan proses bisnis perusahaan. Jika biasanya kolaborasi dan akses data dilakukan lewat on-premise, kini proses berbagi dan bertukar data mulai dilakukan dengan bantuan cloud.

Berdasarkan laporan bertajuk 2020 Progress Data Connectivity Report (2020), lebih dari 56 persen perusahaan di Amerika Serikat yang mulai memikirkan penggunaan cloud di tahun ini. Adopsi cloud juga mulai dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia karena efisiensi data serta keamanan yang ditawarkannya.

Meski begitu, laporan ini juga menyebut bahwa adopsi cloud tetap tak lepas dari berbagai kendala. Salah satunya yaitu masalah konektivitas, terutama ketika perusahaan mulai mengintegrasikan data cloud dengan on-premise. Untuk itu, perusahaan tak hanya perlu memperhatikan proses implementasi cloud, konektivitas internet yang mumpuni pun harus diprioritaskan. Mengingat tanpa koneksi internet, perusahaan tentu tidak bisa mengembangkan infrastrukturnya di cloud.

Agar produktivitas kian maksimal, satu pengguna setidaknya memerlukan bandwidth minimum 80 kbps untuk mengakses cloud. Namun, kebutuhan ini tentu akan meningkat tergantung dengan jumlah user. Artinya, semakin besar penggunaan, maka semakin besar juga bandwidth yang harus disediakan perusahaan. Hal ini tentu jadi permasalahan baru, apalagi investasi jaringan internet kerap membutuhkan biaya investasi yang tinggi di muka. Padahal, tujuan awalnya yaitu ingin menekan biaya tambahan di tengah situasi ekonomi saat ini.

Salah satu solusi yang dapat dipilih perusahaan untuk mengatasi hal tersebut adalah memanfaatkan layanan Network-as-a-Service (NaaS). Dikutip dari laman Data Flair, NaaS merupakan sebuah layanan yang menyediakan infrastruktur jaringan pada pelanggan, sehingga pelanggan dapat menikmati konektivitas yang dapat diandalkan, aman, dan cepat.

Berbeda dengan sistem konvensional yang hanya menyediakan koneksi internet, NaaS justru memiliki scope yang lebih lengkap. Terutama jika perusahaan merupakan pemain skala besar. Lewat NaaS, perusahaan tak hanya bisa menikmati integrasi data center antar headquarter dengan kantor cabang, tetapi juga integrasi antar perangkat Internet of Things (IoT).

Selain itu, layanan ini juga memfasilitasi karyawan yang bekerja dari rumah melalui koneksi aman menuju cloud saat mentransfer atau mengakses data. Bahkan, penggunaan NaaS dapat menekan 20-30 persen biaya TI perusahaan. Dengan model bisnis NaaS, perusahaan juga tidak perlu melakukan konfigurasi dan pengoptimalan jaringan internet. Sebaliknya, perusahaan justru bisa mendapatkan benefit berupa return of investment (ROI) yang jauh lebih tinggi.

Survei Deloitte pada 2018 menemukan 55 persen perusahaan di Amerika Serikat lebih memilih berfokus mendorong efisiensi lewat bantuan teknologi seperti NaaS, dalam rangka menghilangkan permasalahan teknis yang mengganggu proses transformasi digital. Artinya, perusahaan tak lagi dipusingkan dengan set up, konfigurasi, dan perbaikan yang mungkin diperlukan. Melalui NaaS, perusahaan dapat lebih fokus menciptakan goals-nya di masa mendatang.

Namun, perusahaan pun perlu memilih mitra penyedia dan layanan NaaS yang tepat agar implementasi teknologi cloud dan proses migrasi berjalan mulus. Perusahaan perlu melihat adanya portfolio dan latar belakang vendor terlebih dahulu. Vendor harus memiliki integrasi yang kuat terhadap para penyedia layanan cloud.