Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penularan pandemi COVID-19 mau tidak mau pasti berdampak terhadap pelaku bisnis di Indonesia. Salah satu sektor yang terkena dampaknya adalah para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM.

Riset dari Mandiri Institute dikutip dari Kompas.com menemukan, 43 persen pelaku usaha mengaku masih membatasi usahanya karena terbatasnya modal usaha di bulan Agustus-September. Sementara 24 persen lainnya mengaku khawatir mengenai prospek usaha ke depan.

Masih dari riset tersebut, hanya 28 persen dari UMKM telah menjalankan aktivitas bisnis secara normal, baik produksi dan penjualan. Angka tersebut masih di bawah persentase usaha yang beroperasi normal ketika PSBB pada bulan Mei 2020, yakni sebesar 50 persen.

Walau terbatasi akibat pandemi, bisnis harus tetap berjalan. Baik melalui fase adaptasi, atau jika perlu mengganti haluan. Langkah-langkah proaktif harus diambil guna meminimalisir dampak negatif dari krisis dan selamat dengan menghasilkan bisnis yang lebih lincah.

Ingin tahu apa saja yang harus diperhatikan untuk menjaga bisnis aman dari risiko akibat pandemi? Simak penjelasannya berikut.

1. Kontrak

Pandemi tentu meningkatkan risiko dilanggarnya kontrak, baik itu kontrak dengan pemasok, klien, mitra, atau pihak ketiga lainnya. Pelanggaran ini pastinya berbahaya bagi bisnis karena berpotensi melumpuhkan operasional bisnis.

Misalnya, jika pemasok gagal mengirimkan bahan baku yang dibutuhkan, apa yang harus harus dilakukan? Jika sudah demikian, komunikasi menjadi jalur yang harus ditempuh. Pastikan mereka mengkonfirmasi status kontrak mereka dengan Anda, apakah mereka dapat melanjutkan kontrak atau justru sebaliknya.

Sebaliknya, bukan tidak mungkin di masa pandemi ini Anda menjadi pihak yang tidak dapat memenuhi kontrak dengan mitra. Untuk itu, pastikan meminta bantuan hukum berpengalaman untuk meninjau semua kontrak yang telah dibuat.

Bergantung pada sifat kontrak dan bagaimana dampak pandemi terhadap bisnis Anda, situasi force majeure dapat membebaskan bisnis dari potensi kewajiban. Walau begitu, pastikan meminta pendapat profesional dahulu sebelum mengambil langkah apa pun terkait hal ini.

Sebab, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Seperti berusaha untuk mengurangi gangguan dan memberi pemberitahuan pada waktunya.

2. Kesehatan Karyawan

Karyawan adalah napas dari bisnis. Menjaga karyawan tetap sehat, nyaman dan produktif adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dan keberlangsungan suatu bisnis.

Sesuaikan dengan lokasi bisnis, ketika sudah ada ketentuan yang mengharuskan karyawan bekerja dari rumah (work from home) atau membayar mereka ketika cuti, lakukanlah. Kepatuhan itu menjadi wajib untuk dilaksanakan.

Pastikan apakah bisnis Anda berada dalam sektor yang dikecualikan alias tetap boleh beroperasi meski PSBB maupun PSBB transisi.

Untuk memaksimalkan bekerja jarak jauh, buat tutorial untuk karyawan dan gunakan perangkat lunak konferensi video untuk mengadakan rapat. Pertimbangkan pula untuk menggunakan aplikasi pelacak waktu untuk memastikan karyawanmu bekerja sebagaimana mestinya.

Saat karyawan mulai kembali bekerja dari kantor, pastikan Anda tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai standar dari pemerintah. Buatlah perubahan mendasar untuk meningkatkan kesehatan karyawan, seperti dengan memastikan jarak aman walau itu berarti harus mendesain ulang ruang kantor.

3. Fluktuasi Penjualan

Sekalipun bisnis Anda adalah bisnis yang bisa diakses dari rumah, kemungkinan penurunan penjualan akibat pandemi tetap terjadi. Biasanya banyak bisnis yang menawarkan diskon kepada pelanggannya hanya demi “pulang modal” dan memutus tren penurunan.

Tapi mungkin memberikan diskon bukan ide terbaik, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang. Pasalnya, tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama COVID-19 ini akan berlangsung.

Strategi yang lebih baik adalah tingkatkan pemasaranmu dengan lebih menarik. Ini adalah pendekatan yang jauh lebih baik untuk mengomunikasikan nilai produk dan layanan, sambil menambah bonus baru dari layanan yang kamu berikan.

Beberapa langkah yang bisa diambil misalnya dengan menjamin barang bisa dikembalikan jika bermasalah, atau menjamin uang kembali saat menemukan hal yang tidak beres.

Kamu juga harus fokus membangun sistem penjualan melalui pelatihan virtual dan membimbing para pemasar untuk memanfaatkan teknologi dengan lebih baik. Dengan demikian, penjualan dapat dilakukan lebih banyak tanpa mengurangi ekuitas merek.