Lembaga IDC Indonesia memperkirakan pasar ponsel pintar di Indonesia akan tumbuh sekitar 20 persen tahun ini. Riset IDC Indonesia menunjukkan pada kuartal keempat 2020 terdapat pertumbuhan tahunan sebesar 1 persen, meskipun secara keseluruhan pasar ponsel pintar tahun lalu sempat tertekan karena pandemi virus corona.

Menurut data dari IDC, sebanyak 11,7 juta unit ponsel dikirimkan di Indonesia pada kuartal terakhir tahun lalu.

“Pasar smartphone Indonesia mampu bertahan di tengah pandemi COVID-19 yang mengubah bagaimana cara orang berinteraksi. Kebutuhan akan smartphone melonjak, baik itu untuk mendukung Work-from-Home, Home- based-Learning, layanan streaming hiburan, atau sekedar berkomunikasi secara virtual,” kata analis pasar IDC Indonesia, Risky Febrian seperti diberitakan ANTARA, Rabu (17/3/2021).

Survei yang dilakukan lembaga IDC Indonesia juga menunjukkan pengaruh regulasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) yang diterapkan tahun lalu menunjukkan hasil yang positif untuk menekan jumlah ponsel ilegal di Indonesia. Hal ini bermanfaat dalam proses pemulihan pasar ponsel pintar tahun ini dan tahun-tahun mendatang.

“Penerapan regulasi registrasi International Mobile Equipment Identity (IMEI) juga terus menunjukkan hasil yang positif, dengan meminimalisir peredaran smartphone ilegal di pasaran,” ucap Risky.

Data dari IDC menunjukkan pasar ponsel di Tanah Air sempat turun drastis pada enam bulan pertama tahun lalu. Pasar mengalami pertumbuhan negatif sebesar 18 persen secara year-on-year, karena karantina wilayah. Walau begitu, pemulihan di sektor ini berlangsung relatif cepat, dimana pada semester kedua terdapat pertumbuhan 19 persen secara year-on-year.

IDC menilai, pemulihan pasar ponsel pintar disebabkan kebutuhan menggunakan ponsel untuk mendukung berbagai aktvititas yang harus dilakukan dari rumah. Daya beli masyakarat yang lebih rendah justru mendorong pertumbuhan ponsel segmen pemula, berkisar di angka 100 hingga 200 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp1,4 juta hingga Rp2,9 juta).

Adapun pangsa pasar ponsel murah di Indonesia mencapai 65 persen tahun lalu. Angka ini naik dari tahun 2019 sebesar 45 persen. Sementara pangsa pasar ponsel terbesar di Indonesia pada kuartal keempat 2020 dikuasai oleh Vivo, sebesar 23,3 persen. Vivo berjaya di kelas ponsel murah dengan lini seri Y.

OPPO menduduki posisi kedua, terpaut tipis dari Vivo dengan pangsa pasar 23,2 persen. IDC Indonesia melihat OPPO kuat di segmen menengah melalui produknya seri A dan Reno. Segmen menengah sendiri ialah ponsel dengan kisaran harga 200-400 USD atau sekitar Rp2,9 juta hingga Rp5,8 juta.

Sementara Xiaomi menduduki peringkat ketiga dengan pangsa pasar 15,3 persen. IDC menyebut Xiaomi menjadi salah satu merek yang mendapatkan dampak positif dari regulasi IMEI, dengan berhasil memperluas pangsa pasar di segmen menengah dengan produk Redmi Note 9 Pro dan sub-merek POCO.

Realme menduduki posisi keempat dengan pangsa pasar sebesar 14 persen. Analisa IDC memperkirakan pertumbuhan Realme di setiap kuartal tergolong sehat, meski perusahaan sempat mengalami kendala pasokan.

Di posisi kelima, Samsung menguasai pangsa pasar 13,5 persen. Samsung berhasil memperkuat posisi mereka di segmen ultra low-end (ponsel di bawah 100 USD atau sekitar Rp1,4 juta), dan pemula melalui seri A.

Asal tahu saka, segmen ultra low-end dan pemula Samsung menyumbang dua pertiga dari total pengiriman perusahaan pada 2020 lalu. Sementara di kategori menengah, IDC menilai Samsung akan sulit bersaing dengan merek-merek lainnya.