Metode inkubasi dan pembentukan ekosistem yang mendukung harus dikedepankan demi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia dapat naik kelas. Metode inkubasi adalah metode yang digunakan untuk mendorong UMKM lebih berdaya saing dengan fokus mendorong pertumbuhan (usaha) kecil dan menengah. Cara kerjanya adalah melalui pendanaan-pendanaan produktif dan pendampingan UMKM.

Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki mengatakan proses inkubasi bisa mendorong lahirnya pengusaha-pengusaha baru di Indonesia. Kehadiran wirausahawan baru menjadi penting karena saat ini jumlah pengusaha di Indonesia masih tertinggal dibanding negara-negara tetangga.

Menurut Teten, saat ini rasio wirausaha dibanding jumlah warga Indonesia sebesar 3 persen. Padahal, untuk masuk kategori maju, persentase wirausaha di sebuah negara harus mencapai minimal 4 persen. Karena itu, saat ini pemerintah sudah mulai mengintensifkan dukungan agar semakin banyak wirausaha baru yang muncul di seluruh pelosok negeri.

“Anak-anak muda tidak boleh kesulitan mengembangkan idenya untuk masuk ke tahap industri dan komersialisasi. Berhubung mekanisme ekspor banyak persyaratan yang tidak mungkin dipenuhi usaha mikro, maka saya kira kemitraan harus dilakukan,” kata Teten melalui siaran pers.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Bambang Brodjonegoro mengungkapkan ada dua unsur yang penting dalam membentuk ekosistem UMKM berkelanjutan. Caranya adalah dengan pembiayaan dan teknologi. Adopsi teknologi memegang peran penting agar pelaku usaha kecil memiliki akses pasar yang lebih luas, dan daya saing.

“Teknologi kalau diterapkan dalam bisnis, terutama UMKM, maka UMKM bisa pakai teknologi yang low cost, mudah dan sesuai bisnis lokal. UMKM butuh eksposur terhadap digitalisasi,” kata Bambang.

Menurut Bambang, digitalisasi bukan untuk gagah-gagahan, tetapi ini sebagai esensi bisnis paling dasar, yaitu market access. Hal ini tidak bisa sekadar tatap muka atau berjualan langsung, tapi harus masuk digital.