Di saat dunia bisnis bergegas mengejar transformasi digital, muncul fenomena baru bernama gravitasi data yang mengancam pertumbuhan bisnis mereka. Fenomena ini bakal sangat dirasakan oleh industri perbankan dan keuangan, manufaktur, dan asuransi, yang sedang ramai-ramai menggelar berbagai layanan digital.

Gravitasi data adalah metafora yang menggambarkan terjadinya penumpukan data secara terus menerus pada suatu aplikasi atau sistem yang dijalankan perusahaan. Masalahnya, semakin besar tumpukan data ini, aplikasi akan terasa lebih lamban saat dijalankan. Kini dengan semakin banyak perusahaan menggunakan komputasi awan, masalah tumpukan data ini akan semakin rumit.

Dikutip dari CNBC, sebuah survei mendapati, Jakarta bakal menjadi salah satu kota yang paling terancam oleh fenomena ini. Berdasarkan survei yang digelar Digital Realty baru-baru ini, Jakarta menjadi kota yang mengalami pertumbuhan intensitas gravitasi data tercepat, disusul Singapura, Roma, Hong Kong, Melbourne, dan Atlanta.

Intensitas gravitasi data diperkirakan akan naik dua kali lipat setiap tahun hingga 2024. Survei bertajuk Data Gravity Index DGx versi 1.5 itu memperkirakan industri yang bakal mengalami intensitas gravitasi data terbesar adalah perbankan dan jasa keuangan, manufaktur, dan asuransi. Alasannya, industri-industri ini akan mengalami akselerasi pertumbuhan pusat-pusat perbankan dan finansial, konsumsi rumah tangga, dan peningkatan volume pertukaran data.

“Gravitasi data adalah penghambat pertumbuhan bisnis yang semakin data-centric, berbagai industri di seluruh dunia terancam oleh fenomena ini, khususnya di 53 kota metropolitan di seluruh dunia yang kami survei,” kata Tony Bishop, SVP Platform, Growth, and Marketing Digital Realty, dalam Risetnya.

Beberapa perusahaan yang berada di kota-kota itu memberikan responsnya terkait pertumbuhan gravitasi data yang mengkhawatirkan. Amazon Web Services (AWS) misalnya, menyatakan pelanggan perlu mengadopsi layanan yang bernama AWS Outposts supaya pemrosesan data mereka tetap memiliki latensi yang rendah. Lain lagi strategi NVIDIA yang menyodorkan implementasi kecerdasan buatan (AI) sebagai solusi yang patut dipertimbangkan oleh tim IT dan data science.