Menjalankan suatu usaha atau bisnis tak selamanya membutuhkan modal yang besar. Beberapa bisnis bisa dijalankan hanya dengan modal kurang dari Rp5 juta. Usaha dengan modal kecil ini diharapkan dapat membantu masyarakat menambah pundi-pundi pemasukan, khususnya di tengah perekonomian yang melemah akibat pandemi ini.

Apa saja jenis-jenis bisnis yang bisa dimulai dengan modal kurang dari Rp5 juta? Berikut pembahasannya.

1. Counter Pulsa

Walau sekarang marak pembelian pulsa lewat internet maupun aplikasi, beberapa orang masih belum akrab dengan metode tersebut. Hal ini menyajikan peluang tersendiri untuk Anda yang ingin memulai bisnis membuka counter pulsa. Apalagi jika Anda tinggal di wilayah yang cukup padat penduduknya, bisnis ini sangat tepat untuk di jalankan dari rumah.

Selain menawarkan pulsa untuk beragam operator, Anda juga bisa menawarkan kartu perdana. Biasanya masyarakat malas untuk merepotkan diri membeli perdana di gerai resmi operator, lantaran antrian yang panjang dan mekanisme yang lebih ribet. Hal inilah yang bisa Anda manfaatkan sebagai peluang bisnis.

Jika dihitung-hitung, yang Anda butuhkan untuk memulai bisnis ini hanyalah handphone, server pulsa, etalase kaca, stok kartu, dan banner promosi yang semuanya kurang dari Rp3,2 juta. Anda bisa membuka bisnis ini di rumah Anda guna menghemat biaya sewa.

2. Membuka Usaha Makanan Ringan

Usaha makanan ringan bisa menjadi pilihan bisnis dengan modal kecil berikutnya yang menjanjikan keuntungan menggiurkan. Makanan ringan yang biasa dijual seperti keripik singkong, keripik pisang, keripik kentang, dan sebagainya.

Pertama-tama, tentukan jenis makanan ringan apa yang ingin dijual. Supaya terkesan lebih profesional, gunakan merk sendiri pada bungkusan makanan yang akan dijual. Untuk ukuran kemasan, siapkan kemasan kecil, sedang maupun besar.

Pasarkan produk Anda dengan cara yang mudah dan hemat. Misalnya dengan menitipkan dagangan ke warung-warung kelontong, menitipkan ke pedagang di pasar tradisional bahkan, atau ke rumah makan disekitar tempat kamu. Total, modal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp2-3 jutaan.

3. Bisnis Laundry

Bisnis ini menjadi pilihan ideal bagi mereka yang tinggal di kawasan perumahan, khususnya di sekitar kost mahasiswa/i atau karyawan/ti. Walau hanya memiliki modal minim, Anda masih bisa menjalankan bisnis ini. Dengan mesin cuci, Anda hanya perlu membeli pewangi, setrikaan hingga pengering baju otomatis (Air O Dry).

Jika ditotal, maka modal awal yang perlu perlu disiapkan sekitar Rp 4,2 juta untuk membeli semua peralatan dan perlengkapan dasar. Promosikan bisnis Anda ke tetangga dan wilayah pemukiman sekitar. Pastikan pula Anda menjalankan bisnis ini dengan benar, supaya konsumen Anda tidak kapok dan bersedia kembali mencuci pakaiannya di tempat Anda.

4. Jasa Menjahit

Jika Anda memiliki kemampuan menjahit, maka Anda bisa memanfaatkan keahlian untuk menjalani usaha jasa menjahit rumahan. Yang Anda perlukan hanyalah mesin jahit, obras, perlengkapan jahit dan materi promosi untuk memperkenalkan usaha Anda.

Modal yang dibutuhkan hanya sekitar Rp3 jutaan untuk membeli peralatan dan perlengkapan tersebut. Anda juga bisa menjalani bisnis ini di garasi rumah Anda, dengan tentunya tetap menjamin pelayanan yang maksimal. Bisnis ini juga cocok untuk Anda yang tinggal di sekitar sekolah dan perumahan.

5. Jual Beli Barang Bekas

Alternatif bisnis berikutnya ialah jual beli barang bekas. Dengan banyaknya marketplace yang disediakan di berbagai situs layanan, kini untuk menjalankan bisnis ini sangat mudah dan cepat. Anda juga tidak perlu menyewa tempat atau toko, karena bisa memulai bisnis ini dari rumah.

Lakukan pemasaran melalui internet, supaya orang dengan mudah mengetahui dan membeli berbagai barang yang Anda jual. Barang bekas bisa berupa pakaian, tas, atau barang elektronik.

Pendanaan perusahaan rintisan (startup) diyakini tidak tergoyahkan, di tengah melemahnya perekonomian akibat pandemi COVID-19. Hal ini diungkapkan oleh Asosiasi Modal Ventura Indonesia (Amvesindo). Statistik tren pendanaan hingga kuartal III 2020 masih menunjukkan pertumbuhan positif dan diyakini akan berlanjut di kuartal IV 2020.

Dalam webinar bertajuk “Mengupas Dinamika dan Tren Pendanaan Startup 2020-2021”, Wakil Ketua I Amvesindo, William Gozali mengungkap hingga kuartal III 2020 jumlah pendanaan startup di Indonesia mencapai US$1,9 miliar atau Rp 26,6 triliun dengan jumlah transaksi sebanyak 52 startup. Diprediksi, total pendanaan startup hingga kuartal IV 2020 bisa menyentuh angka US$2 miliar.

Sebagai gambaran, total pendanaan tahun 2018 mencapai US$1,46 dengan jumlah transaksi mencapai 71 startup. Sementara pada 2019 mengalami peningkatan hingga US$2,95 miliar dengan jumlah transaksi sebanyak 113 perusahaan rintisan.

Untuk data tahun 2020, perusahaan rintisan berbasis finansial teknologi (fintech) menduduki peringkat pertama dengan jumlah transaksi sebanyak 8 startup, Edutech dengan 6 jumlah transaksi, diikuti Software as a service (SaaS) sebanyak 6 transaksi.

Kopi Kenangan menjadi salah satu startup yang memperoleh pendanaan baru cukup besar dengan investasi pada Mei 2020 sebesar US$109 juta. Selanjutnya, Kargo Technologies yang menerima pendanaan sebesar US$31 juta, GudangAda sebesar US$25,4 juta, Investree US$23,5 juta, Koinworks US$20 juta, dan Shipper US$20 juta.

Dalam pandangan asosiasi, kenaikan pendanaan menjadi berita yang cukup menggembirakan. Hal ini menunjukan optimisme industri untuk tetap berinovasi di tengah pandemi COVID-19.

Belakangan ini, banyak perusahaan modal ventura (PMV) yang memberikan suntikan modal ke berbagai usaha rintisan alias startup di Tanah Air untuk membantu mereka mengembangkan bisnisnya. Namun, para PMV itu tentunya tidak asal mengucurkan dana ke startup yang belum tentu menjanjikan prospek di masa depan.

Mereka tentu tidak main-main dan tidak sembarangan memberikan suntikan dana. Tentu mereka berharap dengan adanya suntikan dana tersebut, perusahaan yang disuntik atau diberikan dana pun bisa jauh berkembang, bukan malah sebaliknya.

Dikutip dari Kompas.com, Wakil Ketua I Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (AMVESINDO), William Gozali mengatakan setidaknya ada 4 poin yang menjadi pertimbangan para modal ventura ketika memutuskan akan memberikan suntikan dana ke startup atau ke para UMKM untuk mengembangkan bisnisnya.

Apa saja keempat hal itu? Berikut ulasannya.

1. Potensi Pertumbuhan

PMV akan melihat sebesar apa potensi pasar yang dimiliki oleh startup tersebut. Apabila keadaan pasar di suatu daerah cukup besar dan terus berkembang, bisa mendorong pertumbuhan produk yang juga cukup besar.

Dua hal ini  saling berkaitan dan apabila potensi pertumbuhan di suatu perusahaan tidak cukup berkembang, maka PMV pun tidak memiliki keinginan untuk memberikan suntikan modal.

2. Kemampuan Beradaptasi

Startup tentunya perlu untuk terus bisa menyesuaikan diri dengan ketidakpastian yang ada saat ini. Khususnya di tengah pandemi COVID-19 yang membuat risiko ketidakpastian menjadi kian tinggi. Contohnya seperti yang dilakukan oleh perusahaan di bidang ride hailing yang tergerus bisnisnya akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Namun, setelah beberapa lama, perusahaan ini pun bisa kembali beradaptasi dan mendiversifikasi bisnisnya. Caranya adalah dengan membuat layanan pengantaran makanan dan pengantaran logistik. Kemampuan untuk beradaptasi inilah yang membuat startup tersebut  layak untuk dipertimbangkan para PMV.

3. Kualitas Founder

Para PMV juga akan melihat siapa sosok pendiri yang berada di perusahaan tersebut. Hal ini demi memastikan apakah perusahaan tersebut benar-benar di tangan yang tepat atau tidak.

Mengingat investasi yang dilakukan bersifat jangka panjang yang biasanya membutuhkan waktu 5-10 tahun, maka perlu sosok yang dapat bertanggungjawab dalam mengelola kucuran dana tersebut dengan benar, yakni untuk menumbuhkan startup tersebut juga secara jangka panjang.

4. Efisiensi

Yang terakhir namun tak kalah penting ialah mengenai efisiensi perusahaan dalam penggunaan dana biasanya juga diperhatikan. PMV akan melihat apakah calon perusahaan yang diberikan suntikan dana mempunyai model bisnis yang jelas atau tidak.

Microsoft melaporkan peningkatan pengguna aktif yang terus meningkat selama masa pandemi COVID-19 enam bulan terakhir. CEO Microsoft, Satya Nadella menyebut jumlah pengguna tersebut mengalami lonjakan sebesar 50 persen, dimana saat ini Microsoft Teams memiliki 115 juta pengguna aktif harian.

Seperti dikutip dari The Verge, Nadella mengklaim angka ini meningkat lebih dari 50 persen dari 75 juta yang dilaporkan Microsoft sekitar enam bulan lalu. Microsoft juga terus meningkatkan fitur Teams selama pandemi. Salah satunya ialah Together Mode, yang dirancang khusus untuk pertemuan era pandemi serta memungkinkan peserta untuk duduk bersebelahan secara virtual.

Sementara itu, Microsoft juga telah membuka pintu Teams untuk aplikasi pihak ketiga, menyediakan layanan bagi konsumen, serta menjanjikan sejumlah fitur baru, termasuk ruang terobosan pada akhir tahun. Walau begitu, Microsoft mengaku belum bisa menyaingi pesaingnya, Zoom atau Google karena peserta aktif harian Google tercatat memiliki 100 juta peserta aktif harian awal tahun ini. Adapun Zoom mengklaim memiliki 300 juta peserta aktif harian.

Meski masih belum bisa menyaingi kedua pesaingnya, Nadella optimistis pengguna Microsoft akan terus meningkat setelah Microsoft membuka pintu Teams untuk aplikasi pihak ketiga. Nadella juga menyampaikan salah satu anak perusahaan Microsoft, LinkedIn saat ini memiliki 722 juta pengguna. LinkedIn telah berkembang secara bertahap dan menambah pendapatan Microsoft sejak perusahaan mengakuisisi jejaring sosial tersebut senilai USD26 miliar pada 2016 lalu.

Transformasi game dari satu era ke era berikutnya diikuti pula dengan pola konsumsi para gamers. Jika sebelumnya suatu permainan video game identik dengan konsol dan gamenya, maka selama dua dekade terakhir mulai muncul pula layanan video game berlangganan (subscription) seperti PlayStation Plus, PlayStation Now, Nintendo Switch Online, Xbox Game Pass Ultimate hingga Stadia Pro.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Perusahaan konsultan marketing Simon-Kucher & Partners, dikutip dari Game Industry, sebanyak 35 persen gamers di seluruh dunia kini sudah mengikuti layanan game berlangganan. Survei berjudul “The Global Gaming Study: The Future of Subscriptions” ini berusaha menangkap pola gamer beradaptasi ke realitas gaming baru ini. Sebanyak 13.000 responden dari 17 negara disurvei pada periode Mei dan Juni dengan bantuan firma riset pasar Dynata.

Lebih dari sepertiga gamer, tepatnya 35 persen aktif berlangganan layanan gaming dimana para gamer justru bersedia berlangganan lebih dari satu layanan. Hasil survei menunjukkan 35 persen dari semua gamer mengikuti sebuah layanan berlangganan secara aktif, walau distribusinya tidak merata di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, hanya 20 persen yang aktif berlangganan, sedangkan gamer di India dan Indonesia justru dua kali lipat lebih mungkin berlangganan.

80 persen responden yang sudah mendaftar untuk satu layanan berlangganan mengatakan bahwa mereka sudah berlangganan di beberapa layanan (9 persen) atau tertarik untuk memiliki beberapa langganan lainnya (71 persen). Survei tersebut mengidentifikasi ruang untuk pertumbuhan layanan game berlangganan, tidak hanya di antara gamer yang belum mendaftar, tetapi di antara mereka yang sudah membayar layanan.

Mengenai alasan mengapa gamers mau mengikuti layanan berlangganan, mayoritas menjawab kualitas game yang ditawarkan menjadi faktor terpenting untuk dipertimbangkan. Tiga alasan berikutnya untuk berlangganan adalah harga, jumlah game dan keragaman game. Satu hal lainnya yang layak dipertimbkan adalah prioritas para gamers berbeda-beda, bergantung pada berapa lama waktu bermain para responden setiap minggunya.

Sementara itu, untuk mereka yang mengaku tidak berlangganan, alasan utama mereka tidak berlangganan ialah karena harga. Hal ini menjadi alasan utama para gamers baik itu yang memiliki waktu bermain kurang dari 5 jam per pekan (casual gamers), 6-20 jam per pekan (moderate gamers) hingga lebih dari 20 jam per pekan (serious gamers).

Adapun faktor lainnya adalah keinginan untuk membeli game daripada menyewa melalui akses berlangganan, hingga akses internet dan pembayaran yang terbatas.

Sejak masa pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan di berbagai daerah demi memutus mata rantai persebaran COVID-19, banyak perusahaan yang memberlakukan kebijakan kerja dari rumah alias Work from Home (WFH). Walau dianggap sebagian karyawan lebih mudah karena tidak perlu berpergian dan hemat ongkos transportasi, rupanya WFH bisa menghadirkan masalah tersendiri.

Salah satunya adalah ketika tagihan listrik di rumah membengkak. Ya, tanpa disadari Anda lebih banyak menggunakan peralatan elektronik lebih banyak ketika harus bekerja di rumah. Misalnya pendingin ruangan atau AC, komputer, televisi dan sebagainya. Untuk itu, Anda harus cermat dan efisien dalam menggunakan peralatan elektronik di rumah, demi menghemat tagihan listrik Anda.

Di rangkum dari berbagai sumber, berikut langkah-langkah yang bisa ditempuh guna mencegah tagihan listrik Anda jebol gara-gara WFH.

1. Cabut Colokan Elektronik Setelah Tidak Digunakan
Meski perangkat elektronik sedang tidak digunakan, apabila colokan daya perangkat tersebut masih terpasang maka aliran listrik masih terjadi. Untuk itu, ada baiknya jika Anda mencabut kabel penyambung daya listrik pada peralatan seperti charger gadget, televisi hingga komputer ada baiknya setelah tidak digunakan.

Hindari pula kebiasaan memasang perangkat seperti komputer atau laptop pada mode stand by. Apabila sudah tidak digunakan, sebaiknya perangkat elektronik memang dimatikan supaya menghindari adanya aliran listrik yang terbuang sia-sia selama berjam-jam.

2. Gunakan Lampu LED
Mungkin terkesan sepele, namun penggunaan lampu yang lebih hemat daya akan menghemat pula tarif listrik Anda. Untuk itu ada baiknya untuk menggunakan lampu LED yang memang lebih terang 80-90 persen dari lampu pijar atau bohlam biasa. Lampu LED yang baik juga lebih awet untuk digunakan, sehingga Anda tidak perlu repot-repot rutin untuk mengganti lampu rusak.

Selain itu, saat siang hari ada baiknya Anda menggunakan penerangan secara alami tanpa harus menggunakan lampu. Selain menghemat waktu pemakaian lampu, Anda juga menghindari penerangan ganda, yang ujung-ujungnya memboroskan pemakaian energi listrik di rumah.

3. Gunakan Pendingin Ruangan dengan Bijak
Di era modern ini, rasanya hampir setiap ruangan sudah memiliki pendingin udara atau AC-nya sendiri. Memang sulit apabila hidup tanpa AC, apalagi bila berada di musim panas. Demi hemat listrik, cobalah untuk mulai bijak dalam menggunakan AC. Misalnya dengan menggunakannya ketika malam hari saat mau tidur. Setelah digunakan, jangan lupa untuk dimatikan. Gunakan timer untuk menghindari kelalaian.

Perlu diingat pula, mengatur suhu pendingin ruangan yang lebih rendah juga membutuhkan daya listrik yang lebih besar. Sebab semakin rendah suhu yang diatur maka perangkat AC membutuhkan daya lebih besar yang menyebabkan konsumsi listrik Anda juga lebih besar. Untuk itu, biasakan untuk mengatur pendingin ruangan di suhu sewajarnya, misalnya 22-25 derajat Celcius.

Penting juga untuk memiliki rumah dengan ventilasi dan sirkulasi udara yang memadai. Karena bagaimanapun juga, udara yang alami tentu lebih sehat daripada udara yang berasal dari mesin pendingin ruangan.

4. Isi Baterai Gawai Anda dengan Benar
Banyak pengguna gawai baik itu smartphone maupun laptop yang sengaja mengisi baterai perangkat mereka di malam hari, lalu ditinggal tidur hingga sepanjang malam. Selain memperpendek umur baterai, tindakan ini juga memboroskan konsumsi listrik. Jika Anda tidak memiliki timer yang membuat perangkat catu daya Anda mati otomatis setelah penuh, maka ada baiknya Anda hanya mengisi baterai gawai Anda ketika memang masih beraktivitas atau sebelum tidur.

Hal ini berlaku pula pada beberapa produk elektronik yang sejatinya dimatikan sebelum tidur. Misalnya televisi, radio dan komputer. Jangan karena terlalu lelahnya, Anda membiarkan peralatan-peralatan itu bekerja dan energi terbuang cuma-cuma begitu saja. Akibatnya, tentu pemakaian listrik Anda jadi lebih

5. Hemat Penggunaan Air Panas untuk Mandi
Meski mandi air hangat memang menyegarkan Anda khususnya setelah lelah beraktivitas, konsekuensi dari mandi air hangat adalah penggunaan sistem pemanas air atau water heater. Percaya tidak percaya, mesin ini adalah salah satu mesin yang paling banyak menyedot listrik, selain pendingin ruangan. Untuk itu, apabila harus menggunakan air panas, biasakan matikan keran apabila sedang tidak digunakan.

Jangan biasakan ada air yang terbuang cuma-cuma, misalnya ketika Anda sedang membasuh diri Anda dengan sabun atau shampoo. Selain itu, apabila cuacanya sedang tidak dingin, ada baiknya untuk mandi.

6. Hindari Buka-Tutup Kulkas Terlalu Sering
Kebiasaan buka-tutup kulkas terlalu sering akan menyedot daya listrik yang besar. Sekadar informasi, kulkas membutuhkan waktu untuk menyesuaikan kembali suhunya setelah dibuka yang membuat penggunaan listrik jiga lebih besar.

Selain itu, biasakan isi kulkas Anda dengan bahan-bahan secukupnya. Kulkas yang terlalu penuh isinya atau terlalu kosong akan memaksa mesinnya bekerja lebih keras demi menyesuaikan suhu di dalamnya.

Meski terkesan sepele, banyak hal-hal sepele yang tidak disadari seperti yang dijelaskan diatas yang justru membuat tagihan Anda justru membengkak. Setelah memperhatikan hal-hal apa saja yang perlu diperhatikan agar tagihan listrik Anda tidak membengkak, kini waktunya Anda membayar tagihan dengan tepat waktu.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mengurangi penularan pandemi COVID-19 mau tidak mau pasti berdampak terhadap pelaku bisnis di Indonesia. Salah satu sektor yang terkena dampaknya adalah para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM.

Riset dari Mandiri Institute dikutip dari Kompas.com menemukan, 43 persen pelaku usaha mengaku masih membatasi usahanya karena terbatasnya modal usaha di bulan Agustus-September. Sementara 24 persen lainnya mengaku khawatir mengenai prospek usaha ke depan.

Masih dari riset tersebut, hanya 28 persen dari UMKM telah menjalankan aktivitas bisnis secara normal, baik produksi dan penjualan. Angka tersebut masih di bawah persentase usaha yang beroperasi normal ketika PSBB pada bulan Mei 2020, yakni sebesar 50 persen.

Walau terbatasi akibat pandemi, bisnis harus tetap berjalan. Baik melalui fase adaptasi, atau jika perlu mengganti haluan. Langkah-langkah proaktif harus diambil guna meminimalisir dampak negatif dari krisis dan selamat dengan menghasilkan bisnis yang lebih lincah.

Ingin tahu apa saja yang harus diperhatikan untuk menjaga bisnis aman dari risiko akibat pandemi? Simak penjelasannya berikut.

1. Kontrak

Pandemi tentu meningkatkan risiko dilanggarnya kontrak, baik itu kontrak dengan pemasok, klien, mitra, atau pihak ketiga lainnya. Pelanggaran ini pastinya berbahaya bagi bisnis karena berpotensi melumpuhkan operasional bisnis.

Misalnya, jika pemasok gagal mengirimkan bahan baku yang dibutuhkan, apa yang harus harus dilakukan? Jika sudah demikian, komunikasi menjadi jalur yang harus ditempuh. Pastikan mereka mengkonfirmasi status kontrak mereka dengan Anda, apakah mereka dapat melanjutkan kontrak atau justru sebaliknya.

Sebaliknya, bukan tidak mungkin di masa pandemi ini Anda menjadi pihak yang tidak dapat memenuhi kontrak dengan mitra. Untuk itu, pastikan meminta bantuan hukum berpengalaman untuk meninjau semua kontrak yang telah dibuat.

Bergantung pada sifat kontrak dan bagaimana dampak pandemi terhadap bisnis Anda, situasi force majeure dapat membebaskan bisnis dari potensi kewajiban. Walau begitu, pastikan meminta pendapat profesional dahulu sebelum mengambil langkah apa pun terkait hal ini.

Sebab, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Seperti berusaha untuk mengurangi gangguan dan memberi pemberitahuan pada waktunya.

2. Kesehatan Karyawan

Karyawan adalah napas dari bisnis. Menjaga karyawan tetap sehat, nyaman dan produktif adalah kunci untuk mencapai kesuksesan dan keberlangsungan suatu bisnis.

Sesuaikan dengan lokasi bisnis, ketika sudah ada ketentuan yang mengharuskan karyawan bekerja dari rumah (work from home) atau membayar mereka ketika cuti, lakukanlah. Kepatuhan itu menjadi wajib untuk dilaksanakan.

Pastikan apakah bisnis Anda berada dalam sektor yang dikecualikan alias tetap boleh beroperasi meski PSBB maupun PSBB transisi.

Untuk memaksimalkan bekerja jarak jauh, buat tutorial untuk karyawan dan gunakan perangkat lunak konferensi video untuk mengadakan rapat. Pertimbangkan pula untuk menggunakan aplikasi pelacak waktu untuk memastikan karyawanmu bekerja sebagaimana mestinya.

Saat karyawan mulai kembali bekerja dari kantor, pastikan Anda tetap mematuhi protokol kesehatan sesuai standar dari pemerintah. Buatlah perubahan mendasar untuk meningkatkan kesehatan karyawan, seperti dengan memastikan jarak aman walau itu berarti harus mendesain ulang ruang kantor.

3. Fluktuasi Penjualan

Sekalipun bisnis Anda adalah bisnis yang bisa diakses dari rumah, kemungkinan penurunan penjualan akibat pandemi tetap terjadi. Biasanya banyak bisnis yang menawarkan diskon kepada pelanggannya hanya demi “pulang modal” dan memutus tren penurunan.

Tapi mungkin memberikan diskon bukan ide terbaik, terutama jika dilakukan dalam jangka panjang. Pasalnya, tidak ada yang benar-benar tahu berapa lama COVID-19 ini akan berlangsung.

Strategi yang lebih baik adalah tingkatkan pemasaranmu dengan lebih menarik. Ini adalah pendekatan yang jauh lebih baik untuk mengomunikasikan nilai produk dan layanan, sambil menambah bonus baru dari layanan yang kamu berikan.

Beberapa langkah yang bisa diambil misalnya dengan menjamin barang bisa dikembalikan jika bermasalah, atau menjamin uang kembali saat menemukan hal yang tidak beres.

Kamu juga harus fokus membangun sistem penjualan melalui pelatihan virtual dan membimbing para pemasar untuk memanfaatkan teknologi dengan lebih baik. Dengan demikian, penjualan dapat dilakukan lebih banyak tanpa mengurangi ekuitas merek.

Di zaman yang serba “Smart” ini, kebutuhan akan komunikasi sudah menjadi kebutuhan primer. Rasanya alat komunikasi seperti ponsel sudah dimiliki setiap orang dari beragam kalangan. Jika berbicara soal ponsel, maka tak bisa dipisahkan dari yang namanya pulsa.

Ibarat asupan gizi dari ponsel, tanpa pulsa ponsel hanyalah gawai yang kehilangan fungsi utamanya. Baik itu untuk telepon, mengirim pesan singkat ataupun berinternet ria, sebelum menggunakan ponsel rasanya sudah pasti hal yang utama perlu dicek adalah keberadaan pulsa (selain ketersediaan energi atau baterai).

Apalagi di masa pandemi yang mana banyak pekerjaan dilakukan dari rumah atau “Work from Home“. Tak heran apabila bisnis pulsa menjadi bisnis yang belakangan kembali menjamur. Tak cukup modal yang besar, setiap orang kini bisa memulai bisnis sebagai agen pulsa.

Menjadi agen pulsa dapat dilakukan oleh siapapun, baik pelajar, ibu rumah tangga, mahasiswa dan karyawan. Cukup dengan memiliki telepon pintar, Anda sudah siap mengembangkan bisnis Anda dan meraup target pasar. Tak heran apabila persaingan di bisnis ini pun menjadi sangat tinggi. Tanpa strategi yang jitu, siap-siap saja Anda kalah bersaing.

Ingin tahu strategi apa saja yang dibutuhkan? Simak ulasannya berikut ini.

1. Memilih Server Pulsa

Tanpa server pulsa yang oke, maka siap-siap saja Anda akan mengalami kesulitan dalam menjalankan bisnis sebagai agen pulsa. Tentunya server (dealer) pulsa yang baik memiliki beberapa kriteria tertentu.

Salah satunya adalah dapat melayani transaksi dengan singkat tanpa banyak kendala teknis, seperti karena maintenance atau gangguan lainnya. Ingat, konsumen dapat dengan mudah beralih ke agen pulsa lain jika kelancaran transaksi mereka terganggu!

Server pulsa juga perlu menyediakan pelayanan yang responsif dan transparan kepada konsumennya. Untuk itulah reputasi mereka harus diperhitungkan, khususnya dalam menanggapi setiap keluhan dengan baik dan cepat. Server yang baik biasanya transparan dan memiliki website yang menyajikan laporan transaksi pelanggan secara realtime.

2. Tentukan Harga yang Bersaing

Namanya bisnis dengan tingginya tingkat persaingan, strategi pricing sudah barang tentu harus ditentukan secara bijak. Tentunya Anda perlu melakukan riset, supaya bisa masuk pasar dengan jitu. Jangan sampai menjual produk dengan harga yang terlalu tinggi, jualan Anda pasti tidak laku. Tapi juga jangan terlalu rendah hanya demi meraup pelanggan semaksimal mungkin, bisa merusak pasaran!

Contohnya, harga pulsa 20 ribu di daerah Anda Rp. 22.000. Para pemain baru biasanya menawarkan harga yang lebih murah guna memperkenalkan diri kepada pelanggan. Anda bisa memasang harga pulsa 20 ribu sebesar Rp. 21.000. Karena harga dari dealer, misalnya Rp. 20.500.

Memang di awal pasti Anda merasa untung yang didapatkan masih terlalu kecil, Rp 500. Namun bayangkan apabila pelanggan tersebut mengajak temannya untuk belanja di tempat Anda. Word of mouth menjadi faktor penentu keberhasilan setiap bisnis di era modern. Seiring berjalannya waktu, apabila sudah loyal mereka siap membeli sekalipun dengan harga normal.

3. Berikan Pelayanan Maksimal

Sebagai penjual jasa, kepuasan pelanggan menjadi keberhasilan bisnis Anda. Agen pulsa yang baik tidak hanya berhasil meraup keuntungan, namun apabila pelanggan puas dan mengajak temannya untuk beli pulsa di tempat Anda.

Untuk itu Anda harus menjadi agen yang responsif dan siap melayani pertanyaan serta keluhan pelanggan. Jangan marah apabila ada konsumen yang hanya menanyakan harga, tanpa melakukan transaksi. Bisa jadi memang konsumen itu juga sedang mencari agen yang kelak menjadi langganan mereka.

4. Transaksi Lunas, Jangan Kasih Utang!

Namanya transaksi kecil, kadang kita merasa lupa apabila ada pelanggan yang belum membayar. Namun jika dikumpul-kumpul, bisa jadi keuntungan yang susah payah Anda raih sirna begitu saja lantaran ada konsumen yang utang dan tidak membayar.

Sekalipun konsumen Anda adalah kerabat yang Anda kenal, jangan biasakan pelanggan berutang. Pasalnya modal dari bisnis ini juga kecil. Apabila ada utang yang tak tertagih modal juga berkurang dan tidak bisa diputar. Rugi dong!

5. Promosi yang Unik

Dengan keuntungan per transaksi yang relatif kecil, keuntungan besar hanya dapat diraih apabila semakin banyak transaksi yang terjadi. Anda bisa menyediakan promosi yang unik, misalnya dengan melakukan bundling. Apalagi di era ini, setiap pengguna ponsel biasanya memiliki nomor lebih dari satu.

Anda bisa memberi potongan harga apabila pelanggan membeli pulsa lebih dari satu nomor. Anda juga bisa memberi promo untuk pelanggan yang melakukan frekuensi transaksi yang rutin. Maksimalkan promosi di media sosial seperti Twitter dan WhatsApp, supaya pelanggan tahu promosi yang Anda tawarkan.

Mudah bukan? Semoga strategi diatas dapat diterapkan dan menginspirasi Anda dalam memulai bisnis agen pulsa.